• Vicharius DJ

Oceania dan Indonesia dalam Biennale Jogja XVI

Biennale Jogja kembali digelar meskipun masih berada di tengah pandemi. Tahun ini Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 mengambil tema Indonesia with Oceania. Terdapat 33 karya yang disajikan. Biennale Jogja bekerja sama dengan dengan National Culture and Art Foundation untuk menghadirkan bilik Taiwan serta ASEAN Foundation untuk menghadirkan seniman-seniman dari Korea dan ASEAN.

Alia Swastika, Direktur Yayasan Biennale Jogja mengatakan gelaran kali ini merupakan penutup dari seri Katulistiwa putaran pertama. Penyelenggaraan yang juga menandai umur Biennale Jogja di usia satu dekade. Selama satu dekade belakangan, Biennale Jogja 2021 mengusung seri Equator sebagai tema festival. Equator juga menjadi platform gagasan sekaligus ikon geografis, ekologis, etnografis, historis dan politis yang punya kesamaan identitas di negara bekas jajahan.


Tahun ini Biennale Jogja ingin memperlihatkan apabila Indonesia dan kawasan Oceania merupakan wilayah yang dekat secara geografis, namun praktik geopolitik membuatnya terasa asing. “Kami membaca sejarah Oceania untuk mengenali kembali identitas Indonesia yang dibayangkan sebagai melting pot, titik temu dari berbagai etnis, ras, dan kebudayaan,” kata Alia.

Oceania, menurutnya menjadi ruang kontestasi identitas yang menarik komunitas-komunitas yang tinggal bersama, untuk menyaksikan pergeseran sejarah dan kemudian menuliskan ulang sejarah mereka sendiri dalam pusaran politik lokal, paska kolonial, dan pergaulan global.Tema Indonesia dan Oceania sebenarnya sudah terpikir sejak satu dasawarsa yang lalu.


Gintani Nur Apresia Swastika, Direktur Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 menjelaskan bahwa konteks Oceania merupakan wilayah Kepulauan Indonesia Timur hingga Hawaii. Namun lantaran minimnya pengetahuan tentang Oceania membuat tema ini belum terlaksana kala itu. Alhasil, tema Oceania ‘tersalip’ oleh tema tentang India serta ASEAN. Baru pada tahun ini, beberapa tim periset mengunjungi tempat seperti Ambon, Jayapura, Maumere, dan Kupang.

Di Ambon, Maluku, Elia Nurvista, salah satu kurator Biennale Jogja mencoba mengingat kembali perjumpaan awal kolonialisme di wilayah Kepulauan Indonesia bagian Timur. Dalam rentang ratusan tahun, kolonialisme mewariskan percampuran budaya, modernisasi, agama, hingga serapan Bahasa yang masih dapat dijejak di sepanjang jazirah Kepulauan Maluku hingga saat ini.


Karena penyelenggaraan Biennale Jogja dilakukan di masa pandemi, beberapa penyesuaian pun dibuat. Salah satunya terkait mobilitas karya dan seniman antar negara. Terdapat seleksi ketat. Begitupun dari sisi pengunjung, apabila dahulu bisa menarik ratusan bahkan ribuan pengunjung, maka pada gelaran tahun ini terdapat pembatasan.


Salah satu solusi agar pengunjung bisa tetap menikmati Biennale Jogja, penyelenggaraan terdiri secara daring dan luring. Tempat pameran juga tersebar di empat tempat yaitu Jogja Nasional Museum, Taman Budaya Yogyakarta, Museum dan Tanah Liat, serta Indie Art House. Masyarakat bisa memesan tiket secara daring melalui website biennalejogja.org selama penyelenggaraan dari 6 Oktober sampai 14 November 2021.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua