• Vicharius DJ

Pameran Odyssey, Perjalanan Mempelajari Diri Sendiri

Di tengah pandemi yang belum kunjung usai, kota Kediri punya cerita menarik soal dunia seni. Pertengahan Mei lalu, di ruangan sebuah café berukuran sekitar 7 x 5 meter tergantung 4 kain batik yang berjuntai mengelilingi pakaian batik beraksara Jawa. Di sampingnya terdapat foto-foto dalam bingkai dan monitor yang menayangkan tari-tarian sedang terus berputar.


Jika terus berkeliling, pengunjung akan menemui ragam seni lintas disiplin seperti seni lukis, fotografi hingga seni kriya, pemandangan yang sebenarnya masih cukup langka ditemukan di Kota Tahu tersebut. Karya-karya itu tergabung dalam sebuah pameran bertajuk Odyssey atau pengembaraan yang digelar di SK Coffee Labs.



Penggagasnya tak lain adalah Suddenly Movement, sebuah gerakan yang dicetuskan oleh tujuh anak muda yang mengalami keresahan serupa. Gigih, salah satu penggagasnya bercerita, suatu waktu di tengah pandemi sekitar Oktober tahun 2020, dia yang pulang usai merantau dari luar kota merasakan kegamangan dan kekosongan sebab tak memiliki ruang berekspresi di Kediri.


Ia pun secara tak sengaja bertemu dengan enam orang lainnya yang kelak ikut menggagas Suddenly Movement di sebuah kedai kopi. Ternyata mereka memiliki keresahan yang serupa, perihal ruang berkesenian di Kediri. Dalam obrolan yang acak dan tak terencana, di tengah redupnya kegiatan berkesenian, Suddenly Movement pun tercipta. Nama gerakan ini lantas tercetus seperti bagaimana proses gerakan ini terpikirkan, yakni secara tiba-tiba. Mereka bertujuh memiliki latar disiplin ilmu yang berbeda seperti film, seni lukis, seni kriya, fotografi, dan seni tari.



“Dengan bercampurnya setiap disiplin ilmu kesenian kita akan membawa pengetahuan tentang kesenian di luar apa yang kita ketahui. Niatnya ya bikin ekosistem yang sehat dan saling support antar disiplin ilmu itu.” ujar Gigih.


Pameran Odyssey menjadi ruang kolaborasi lintas disiplin. Odyssey dalam Bahasa Indonesia berarti pengembaraan merupakan sebuah upaya mempelajari manusia yang berarti mempelajari diri sendiri dengan upaya autokritik dan auto refleksi yang menandakan suatu perjalanan. Karya-karya dipamerkan dengan media yang berbeda, namun memiliki konteks yang selaras perihal penggalian eksistensi diri.


Hal ini bisa terlihat misalnya pada lukisan berjudul Siklus karya Jihan Alfn dan Mengais dalam Samudera karya Rahangtyrex dan beberapa lainnya. Proses pengembaraan ihwal refleksi spiritual juga tertuang pada karya lainnya seperti instalasi milik Gelapekat yang berjudul dis’harmene. Ia menyuguhkan sebuah kotak kayu menyerupai peti mati dengan bunga-bunga bertebaran di lantai diiringi latar musik yang menambah suasana tegang namun asing.



Karya yang dipamerkan sejalan dengan kegelisahan, ingatan, dialog diri, serta proses bertumbuh dari masing-masing seniman. Sebelumnya Suddenly Movement telah menggelar empat volume pameran beserta artist talk dan berbagai workshop seperti batik tulis, pembuatan tembikar, dan scanography.


Dokumentasi pemeran ini masih bisa Anda saksikan dengan berkunjung ke Instagram https://www.instagram.com/suddenly.movement/.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua