• Vicharius DJ

Papermoon Puppet dan Kisah Kerusakan Hutan

Di teras depan rumah, seorang anak laki-laki bernama Wehea sedang tertidur. Suatu hari, ia melihat ada seekor kumbang istimewa. Demi kumbang tersebut, Wehea menempuh perjalanan panjang demi bertemu kumbang badak pencari cahaya yang menjadi penyelamat hidupnya.


Suasana hutan yang asri berubah menjadi kelabu ketika orang-orang yang membawa headlamp memasukinya. Mereka menebang pohon, membakar, menghancurkan hutan, dan menggantinya dengan perkebunan salah satunya sawit. Wehea berusaha menyelamatkan makhluk terkecil di hutan yang selama ini menjadi temannya.



Itulah sekilas gambaran pertunjukan Papermoon Puppet Theatre yang berjudul A Bucket of Beetles. diadaptasi dari cerita penuturan seorang anak laki-laki berusia 5 tahun bernama Lunang Pramusesa, anak dari Maria Tri Sulistyani atau akrab disapa Ria, pendiri Papermoon Puppet Theater.


Ria menceritakan anaknya itu terobsesi dengan kumbang badak sejak Desember 2019. “Lunang terobsesi dengan kumbang dan bertanya 'jika aku ingin bikin pentas cerita tentang kumbang dibawakan kali ini bagaimana?' Kami minta Lunang untuk bercerita dan mengeluarkan ide-idenya termasuk seperti apa bentuk serangga dan kumbang badaknya,” kenang Ria.


Akhir cerita dari pertunjukan A Bucket of Beetles pun dibuat oleh Lunang. Ria mengatakan sejak ide mencuat akhir 2019, Papermoon Puppet Theatre memulai prosesnya di Jepang. "Cerita soal kebakaran hutan dan ending soal Wehea akan cari hutan baru itu juga dibuat oleh Lunang," ucap Ria.


Selama dua jam pertunjukan, penonton disuguhi oleh pemandangan pertunjukan non-verbal sinematik Papermoon Puppet Theatre yang berbeda dari biasanya. Ada banyak detail yang disorot kamera, misalnya ranting pohon yang jatuh, dedaunan, detail kumbang badak, serangga, kecoa, dan makhluk terkecil dalam hutan lainnya. Rumah Wehea yang hanya terdiri batang-batang pohon dari material sekitar studio Papermoon Puppet Theatre dihadirkan dengan sempurna.


“Semua material pertunjukan diambil dari area sekitar studio, kami nggak boleh membeli apa pun, itu komitmen kami dari awal. Studio kami kebetulan berada di tengah hutan kecil,” tutur Ria.


Ia menjelaskan tur belakang panggung dengan antusias. Ria menuturkan ide pementasan virtual ini bermula dari keinginan membawa pengalaman berbeda dari teater konvensional.



Papermoon Puppet Theatre sukses mementaskan A Bucket of Beetles saat pandemi COVID-19 secara virtual. Para penonton yang antusias menonton tak hanya berasal dari Indonesia saja, tapi Philadelphia dan Seattle Amerika Serikat, Jepang, Filipina, Korea Selatan, Jerman, hingga Belanda.


Pandemi COVID-19 membuat Papermoon Puppet Theatre tetap berkarya. Gedung pertunjukan dan ruang kesenian yang ditutup sementara waktu karena Corona tak membuat mereka berdiam diri. Papermoon Puppet Theatre dan tim Patjarmerah sebagai penyelenggara menggelar seni pertunjukan non-verbal virtual yang berjudul A Bucket of Beetles pada 1-2 Agustus lalu.


Di awal pertunjukan, pendiri Patjarmerah, Windy Ariestanty, meminta para penonton tidak merekam jalannya acara. “Mari menonton produksi ini dengan mata dan hati, karena kami bekerja sangat keras untuk menggelar pertunjukan ini,” tuturnya.

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon