top of page
  • Vicharius DJ

Perupa yang Melompati Garis Waktu

Di ruang galeri A, Galeri Nasional Jakarta, studio Arafura menyajikan sebuah karya seni interaktif yang membuat mata tak tahan untuk melihatnya. Tajuknya Animental. Arafura menggabungkan sejumlah teknologi untuk menyuguhkan pengalaman yang interaktif saat memasuki ruang instalasi.


Kita akan diminta untuk memindat kode batang dari gawai lalu akan muncul beberapa pertanyaan tentang kepribadian diri. Usai menjawab keseluruhan, kita akan mendapatkan sebuah karakter animental dengan bentuk low poly dan berwarna-warni. Animental tersebut kemudian akan terpampang di dinding proyeksi, berbagi ruang dengan pengunjung yang lain.


Lewat ekspresi suara, karakter tersebut akan memberi respons dan menciptakan koneksi unik. Setiap suara yang keluar, karakter animental juga akan berubah bentuk menjadi lebih nyata. Upaya tersebut memungkinkan pengunjung mendefinisikan diri dengan wujud yang lebih konkret.

Sajian dari studio Arafura merupakan satu dari karya yang tampil pada pameran bertajuk Seni Rupa Indonesia Kini: Pascamasa. Pameran ini menghadirkan ekspresi seni yang tak terbatas dengan menampilkan karya-karya terbaru dari sejumlah perupa ternama Indonesia.


Beberapa seniman yang karyanya dipajang di pameran ini di antaranya adalah Arafura, Arkiv Vilmansa, Azizi Al Majid, Condro Priyoaji, Franziska Fennert, Irfan Hendrian, Iwan Yusuf, Meliantha Muliawan, Nesar Eesar, Nona Yoanisarah, Tomy Herseta, dan Sikukeluang. Total, ada 12 perupa dengan medium kesenian berbeda-beda yang terlibat.


Rizki A Zaelani selaku kurator pameran mengatakan Pascamasa merupakan pameran yang merespons perkembangan terkini dari praktik kesenian yang bertaut pada isu pasca. Ini adalah proses menjelajahi isu-isu era ‘kesudahan’, seperti pascaindustrial, pascamodern, dan pascakebenaran.


Hadirnya para perupa yang datang dari praktik kesenian berbeda merupakan simbol bagaimana seni rupa Indonesia akan berkembang ke depan. Jadi, apa yang ditampilkan tidak menyimpulkan yang sedang terjadi hari ini, tetapi justru adalah persoalan ‘nanti’.

Dalam perjalanannya, seorang seniman selalu berjuang untuk menegakkan monuman masa yang akan bisa terus dikenang. Sebab, seni pada prinsipnya bersifat mengawetkan masa atau durasi waktu dari berbagai kelindan yang dialaminya.


“Proses kurasi 12 perupa ini bukan berdasarkan nama. Kami justru lebih memandang keragaman praktik dan latar belakang disiplin perupa terlebih dahulu sebagai wajah dari perkembangan seni rupa Indonesia ke depan,” ujar Rizki.


Selain Arafura, perupa Azizi Al Majid membawa karya terbarunya bertajuk The Internet Love Machine (Series). Lukisan bertitimangsa 2023 ini mengangkat meme, salah satu format visual komedi yang populer di ranah internet.


Dalam karya ini, Azizi menyusun lukisannya dalam orientasi potret yang tampak mencerminkan layar gawai. Hal ini juga merefleksikan tempat lahir dan tumbuhnya budaya meme hingga menjadi sebuah fenomena unik yang hingga kini terus bergerak di internet.


Layaknya sebuah meme, Azizi banyak memainkan simbol-simbol khas internet dengan bentuk montase berformat humor yang menggelitik. Masing-masing karakter yang ada seolah ditempel terpisah, tetapi sebenarnya satu sama lain bisa jadi saling terkait. “Fenomena kultural yang terjadi dari meme tumbuh organik. Saya rasa, generasi internet hampir seluruhnya sudah terpapar meme,” kata Azizi.

Di internet, meme ini terlihat sepele. Namun, sebenarnya karya ini menyimpan sesuatu yang besar, termasuk jadi gerakan politik unik yang kerap digaungkan anak muda. Misalnya, lewat karakter frog yang sebenarnya adalah katak biasa. Akan tetapi, ketika diluncurkan di suatu kondisi tertentu, bisa jadi akan ada makna yang menempel dan membuatnya jadi sesuatu yang kuat.


Kemudian, di ruang yang lain, ada Franziska Fennert yang menghadirkan karya Leluhur Sedang Memandang. Karya ini terdiri dari tiga batu bata sintetis yang berukuran 20x20x8cm.


Batu bata tersebut rupanya dihasilkan dari pengolahan limbah kantong plastik, sedotan, kemasan makanan ringan, dan kemasan sekali pakai yang dipadatkan dan jadi bentuk baru. Dari situ, bahan daur ulang ini kembali diolah, diukir, sehingga menyerupai batu nenek moyang.


Batu nenek moyang tersebut berada di sebuah kayu fosil. Franziska seolah sedang membenturkan masa lalu dan masa kini dalam sebuah refleksi pandangan leluhur, yang seolah masih mengawasi setiap gerak-geriknya.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page