• Vicharius DJ

Pesan Lingkungan dari Proyek Seni Kampung Semarang

Orang Jawa mengenal musim menjadi dua, rendheng (musim hujan) dan ketigo (musim kemarau). Biasanya musim hujan bulan Oktober – April, dan musim kemarau pada bulan April – Oktober.  Namun patokan ini tidak berlaku lagi sekarang karena perubahan iklim. Ketika menyikapi perubahan musim tanam dan panen, orang Jawa biasanya menyebutnya dengan Udan Salah Mongso.

Istilah itu dirasa relevan bagi dunia seni khususnya yang terlibat dalam agenda dua tahunan (biennale), Kolektif Histeria dengan tajuk Penta Klabs. Tahun ini mereka membuat program kuratorial dengan judul besar Udan Salah Mongso.  Menurut kurator Adin Hysteria, biennale ini berbasis art projectdalam situs khusus misalnya kampung atau tempat semacam itu dengan seniman melakukan respons dan keterlibatan bersama masyarakat yang tinggal di dalamnya.



“Tahun ini penyelenggaraan Penta Klabs didukung penuh Galeri Nasional dalam pameran keliling. Galeri Nasional  ingin melihat perubahannya dalam skala global tetapi melalui kasus-kasus lokal,” tulisnya dalam sebuah pengantar.

Art project dipilih menjadi model representasi mengingat pertumbuhan seni dan konteks perlu digaungkan lagi apalagi di tengah kota seperti Semarang di mana kehadiran galeri kurang signifikan sehingga perlu pendekatan lain untuk mengkampanyekan isu seni dan kebergunaannya di masyarakat.



Seni seperti upaya-upaya lain bisa menjadi lem sosial dan aktivasi gerakan di tengah masyarakat rasa-rasanya itu menjadi satu pendekatan baru yang menyegarkan terlebih di kota-kota yang infrastrukturnya tidak cukup memadai.

Berbeda dengan Penta Klabs sebelumnya, kali ini kegiatan secara umum dilakukan secara daring dengan menggunakan fitur virtual reality dari 8 kampung bagian jejaring Hysteria. Kampung tersebut antara lain: Petemesan, Bustaman, Randusari- Nongkosawit, Kemijen, Jatiwayang- Ngemplak Simongan, Sendangguwo, Bandarharjo, dan Krapyak.


Adapun Penta Klabs di tahun pertama mengangkat ‘Narasi Kemijen’ (2016) tentang daya resiliensi warga di Kelurahan Kemijen, Semarang menghadapi banjir dan rob saban tahun, dan ‘Sedulur Banyu’ (2018) bertema ekosistem air di daerah hulu dalam hal ini Kampung Randusari, Gunungpati, Semarang. Penyelenggaraan yang kedua hendak menangkap fenomena alih fungsi lahan daerah Semarang atas yang mulanya daerah resapan menjadi kawasan pemukiman.


Sedangkan pesan utama pada Udan Salah Mongso ialah pemanasan global dan perubahan iklim adalah satu fenomena yang benar-benar terjadi. Secara kasat mata saja bisa kita saksikan perubahan besar-besaran lingkungan karena kasus pembalakan hutan untuk pertanian maupun perkebunan monokultur.


Eskploitasi sumber daya alam, minyak dan tambang juga satu fenomena tidak terelakkan oleh manusia yang mempengaruhi struktur geografis bumi. Secara sederhana ini adalah pembabakan baru dalam epos (epoch) bumi manusia mempengaruhi struktur geologi dan tentu saja berdampak pada iklim dan lingkungan pula.


Pandemi oleh Covid 19 juga diyakini sebagai migrasi virus dari hewan ke manusia karena ekosistem hidup mereka yang terganggu hanya salah satu dari dampak ini. kesewenang-wenangan manusia terhadap alam dan lingkungan karena merasa sebagai pusat dunia telah membuat eksploitasi berlebihan. Manusia diserang balik oleh perilaku aniaya mereka sendiri.



0 komentar

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon