• Vicharius DJ

Ragam Seni Kontemporer dan Akar Budaya Lokal

Museum Macan menggelar program pameran bertajuk Present Continuous/Sekarang Seterusnya. Ini adalah sebuah pameran kolaboratif yang melibatkan organisasi seni dari berbagai daerah Indonesia. Pameran ini akan menampilkan karya-karya seni kontemporer yang diproduksi oleh para seniman di masa pandemi.

Dalam Present Continuous Museum Macan berkolaborasi dengan lima organisasi seni dan biennial seni kontemporer, yakni Arifa Safura & DJ Rencong (Banda Aceh), Mira Rizki (Bandung), Muhlis Lugis (Makassar), Udeido Collective (Jayapura), serta Unit Pelaksana Terrakota Daerah (Majalengka). Sementara biennale yang terlibat antara lain; Biennale Jogja, Indeks, Jatiwangi art Factory, LOKA dan Makassar Biennale.


Direktur Museum Macan, Aaron Seeto mengatakan, pameran kali ini merupakan tanggapan atas pandemi Covid-19 yang telah melingkupi Indonesia selama nyaris dua tahun terakhir. Menurutnya, proyek kali ini disiapkan sebagai ruang untuk komunitas seni dari berbagai latar belakang mengekspresikan gagasannya terhadap situasi saat ini.

Karya-karya para seniman yang akan ditampilkan dalam program Present Continuous akan menghadirkan beragam bentuk seni kontemporer, yang berangkat dari problematika budaya lokal, memori kolektif, hingga interaksi manusia dengan alam dan teknologi. Menurut Aaron, beragam isu yang diusung dalam karya tersebut, dinilai akan membuka ruang dialog dari beragam perspektif untuk membaca kebudayaan Indonesia di tengah situasi pandemi.

Pandemi menuntut kolektif seni, termasuk penyelenggara galeri pameran untuk mencari cara baru dalam menghubungkan seniman dengan audiens. Dalam konteks itu, pameran kali ini menurutnya akan menjadi ruang baru bagi sebuah kolaborasi dan riset untuk menjawab tantangan seni kontemporer.


Seluruh karya yang hadir diseleksi oleh ko-kurator Jogja Biennale, Elia Nurvista. Dalam jumpa pers virtual, Elia menuturkan karya yang bakal dihadirkan di Museum MACAN nanti merupakan karya performatif. “Ada patung dan karya seni instalasi juga yang belum berfungsi benar kalau belum ada pengunjung. Temanya adalah ruang spiritual yang juga biasanya diaktivai oleh upacara adat,” tuturnya.

Nantinya ada seni performans yang bakal dihadirkan oleh Kolektif Udeido. Tapi Elia juga menegaskan masih ada beberapa kendala terkait peraturan saat pandemi. “Bentuknya (karya seni) seperti apa, kami masih membicarakan nanti,” tambahnya.

Perupa Dicky Takndare asal Sentani yang merupakan anggota Kolektif Udeido juga menceritakan tentang konsep karyanya yang memakai material-material dari kampung halamannya. “Ini bukan hanya pendekatan tapi juga jadi konsep. Kami menggali kembali konsep yang dipercaya oleh nenek moyang orang Papua untuk melihat kontemporer saat ini dikaitkan dengan kacamata masa lalu, dan masa depan yang seperti apa,” kata Dicky.

Dicky juga mengatakan ada banyak material karya seni konvensional yang biasa dipakai oleh pematung, seniman video mapping maupun video art. Bedanya ini material budaya dari seniman tradisional di beberapa daerah di Papua. Kolektif Udeido di antaranya terdiri dari Andre Takimai (Deiyai), Betty Adii (Jayapura), Costantinus Raharusun (Fak-Fak), Dicky Takndare (Sentani), Michael Yan Devis (Jayapura), Nelson Natkime (Mimika), dan Yanto Gombo (Wamena).


Kolektif yang memakai kata Udeido dari bentuk jamak 'Ude' yang merujuk pada sejenis daun yang biasa digunakan masyarakat Mee untuk menutupi luka atau pendarahan. Kelompok seni ini merupakan ruang yang dibentuk untuk mendorong upaya perupa muda Papua dalam mengeksplorasi berbagai fenomena sosial dan humaniora yang terjadi di Papua, serta mengemasnya dalam bentuk karya seni rupa.


Rencananya, pameran bersama ini akan mulai digelar pada Desember mendatang dengan kombinasi daring dan luring. Tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat!

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua