top of page
  • Vicharius DJ

Relasi Masa Lalu dan Masa Depan dalam ICAD 12

Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD) kembali digelar. Pameran seni yang telah berusia 12 tahun tersebut tahun ini mengusung tema Fragmenting Yesterday, Reshaping Tomorrow yang menelusuri relasi antara masa lalu dan masa depan. Amanda Ariawan yang menjadi ketua tim kurator mengatakan tema tersebut tidak bisa dipisahkan dari pandemi sebagai memori kolektif yang mempengaruhi kita semua.

 

Ide-ide karya yang ditampilkan berhubungan dengan pengetahuan dan diskusi tentang sektor lainnya. Mulai dari lingkungan, sejarah, teknologi, dan peradaban. “Di antara realita isu-isu sosial yang ditawarkan melalui karya-karya yang ditampilkan, dapat ditemukan pandangan kritis dan imajinasi dari para seniman. Berbagai gagasan dari para peserta dapat dipahami dalam pameran ini, mulai dari aspek humor hingga politis, analitis hingga spekulatif,” tuturnya.

 

ICAD 12 menghadirkan 59 pelaku kreatif multidisipliner yang terdiri dari perupa kontemporer, kreator muda, komunitas seni sampai musik. Dalam special appearance ada Nyoman Nuarta, dalam kategori lainnya In Focus ada Eddie Hara x Rebellionik x Onxideastudi, Heri Dono, Mella Jaarsma, Nasirun, dan Titarubi.

 

Di bagian Featured, ada lebih banyak kreator lagi. Mereka adalah Adhi Nugraha, AMODA x Bedlam & Origin Research, Arafura Media Design, Ayu Andiani Putri, DEIO, Digital Nativ, Hendro Hadinata, Irmandy Wicaksono, Made Wiguna Valasara, Natasha Tontey, Sarita Ibnoe, Studio Woork sampai Wanara Design Studio.

 

ICAD 12 juga membuka pendaftaran terbuka bagi mereka yang ingin menampilkan karyanya. Ada Candrani Yulis, Grafis Nusantara, Haiza Putti, Lilia Li-Mi-Yan & Katherina Sadovsky sampai Yue Yin.

 

Ketua Festival ICAD 12, Edwin Nazir, mengatakan selalu ada hal yang istimewa dalam gelaran ICAD. Setiap tahunnya, ICAD yang memadukan antara seni dan desain selalu menyajikan berbagai hal baru yang segar dan memanjakan mata pencinta seni.  “Selalu ada hal yang baru di setiap tahun. Setelah tahun 2020 kami sama sekali tidak menggelar pameran dan mencoba membukanya di 2021, tahun ini kami ingin menghadirkan sesuatu yang spesial,” kata Edwin.

 

Pameran ini dibuka hingga 27 November mendatang. Jika kamu mengunjungi GrandKemang Hotel, di bagian fasad depan ada dua karya patung ciptaan Nyoman Nuarta. Seniman asal Bali yang juga pemilik NuArt Sculpture Park Bandung itu merupakan satu-satunya seniman yang dihadirkan secara spesial.

 

Di bagian depan, ada karya seni instalasi Mella Jaarsma yang diaktivasi tadi malam dengan lima model mengenakan pakaian dari kulit kayu yang digantung ke langit-langit hotel. Berikutnya ada kolaborasi Eddie Hara x Rebellionik x Deastudio yang mengubah troli koper menjadi sesuatu yang artistik.

 

Bagian lobi, ada karya seni instalasi gigantik ciptaan Heri Dono yang khas dengan wayang robotnya. Area lainnya, ada Titarubi yang selama ini meriset tentang Banda, ia membuat instalasi dengan obyek kapal yang disatukan di permukaan kanvas.


“Kami percaya kolaborasi itu sangat baik, kami juga percaya visi kami dalam seni dan desain adalah bagian dari masyarakat. Bisa juga berkolaborasi menghasilkan sesuatu yang lebih menarik,” kata Edwin.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comentarios


bottom of page