• Vicharius DJ

Renungan Personal 50 Tahun Setiawan Sabana

Galeri Nasional Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung dan Garasi Seni 10 menghadirkan pameran bertajuk, KITAB: Jagat Kertas dalam Renungan. Pameran ini diselenggarakan untuk memperingati 50 tahun berkarya di dunia seni, perupa Setiawan Sabana. Pameran ini sempat mengalami penundaan karena pandemi Covid-19.


Namun sejak 5 Oktober lalu akhirnya dibuka dengan konsep daring. Perubahan format dan penyesuaian pilihan karya yang ditampilkan dilakukan untuk memastikan pameran ini mampu menjadi representasi yang baik atas kekaryaan Setiawan Sabana yang dikenal sebagai salah satu seniman grafis kenamaan Indonesia.

KITAB: Jagat Kertas dalam Renungan menampilkan 41 karya yang dibuat Setiawan Sabana dalam kurun waktu selama 2019 sampai tahun ini. Ada 29 karya dua dimensi dan 12 karya tiga dimensi yang dipamerkan dalam bentuk foto dan video untuk memaksimalkan visualisasi. Kurator pameran Danuh Tyas dan Zusfa Roihan, judul pameran Kitab diambil dari salah satu seri karya 3 dimensi yang ditampilkan.


“Kitab dapat diartikan sebagai tumpukan beberapa lembar kertas atau suhuf. Sementara sebagai sebuah metafora, kitab juga diartikan sebagai sumber ilmu dan panduan, yang berisikan identitas baik personal hingga universal,” ungkap para kurator pameran.

Bagi Setiawan Sabana, pameran Kitab bisa menjadi catatan personal yang menyikapi perubahan konteks dan situasi di sekelilingnya. “Karya-karya yang dipamerkan terbilang baru dibuat di tengah situasi pandemi,” lanjutnya.


Para pecinta seni ingin melihat fisik karya namun tidak nyata karena hanya bisa dilihat melalui foto maupun video di layar. Ini menjadi dilema saat konsep luring diubah menjadi daring. Kepala Galeri Nasional, Pustanto, mengatakan pameran tunggal yang bisa dilihat melalui lamangalnasonline.id, para pecinta seni bisa melihat karya-karya yang dipamerkan.

“Karya Profesor Setiawan bisa terus dinikmati oleh publik seluas-luasnya tanpa terbatas jarak dan waktu, sekaligus menjadi rekam jejak dalam lini masa berkesenian beliau,” kata Pustanto.


Setiawan Sabana yang juga meraih predikat Doktor dari Program Studi Pasca Sarjana Seni Rupa ITB (2002) dengan disertasi berjudul Spiritualitas dalam Seni Rupa Kontemporer di Asia Tenggara: Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina sebagai Wilayah Kajian. Pada 2006, ia mendapat jabatan tertinggi sebagai Guru Besar FSRD ITB. Pada tahun ini ia memasuki masa pensiun setelah 42 tahun aktif di kampus ITB.

Dekan FSRD ITB, Rikrik Kusmara, mengatakan sosok Setiawan Sabana yang mendapat penghargaan Satyalancana Karya Satya XX dari Presiden RI merupakan orang penting di dunia seni rupa. “Dia merupakan sosok teladan budaya yang begitu produktif menebarkan inspirasi dan telah mendirikan fondasi yang kokoh bagi generasi penerus seni rupa Indonesia,” tukasnya.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua