• Vicharius DJ

Sajian Gerak Tari dan Keseharian Perempuan Belu

Koreografer Eko Supriyanto kembali menampilkan karya terbarunya berjudul IBUIBUBELU: Bodies of Borders di Teater Salihara. Selama hampir dua tahun Eko melakukan riset untuk menyiapkan pertunjukkan ini usai Festival Likurai yang melibatkan enam ribu penari sebagai aktivasi pariwisata Kabupaten Belu di Nusa Tenggara Timur pada 2017 lalu.


Menurut Eko, karya tarian ini berpijak dari tari Likurai yang lazim ditarikan sebagai tarian selamat datang dalam kultur Nusa Tenggara Timur. IBUIBU BELU: Bodies of Borders menghadirkan enam perempuan asal Belu dan Timor Timur. Di kesehariannya,  para perempuan ini bukan penari profesional namun sudah terbiasa menarikan Likurai. “Semua perempuan di Belu pasti bisa menari Likurai,” kata Eko.



Tarian khas Belu ini menyebar ke antero Nusa Tenggara Timur hingga Timor Timur yang kini menjadi negara Timor Leste. Di tiap daerah, Likurai kini tidak persis. Namun, fungsinya tetap sama, tarian untuk menyambut tamu agung. Karya ini menyajikan bentuk koreografi tubuh batas. Antara tubuh penari dan bukan, antara gerak keseharian dan koreografi, dan tubuh yang terbatas oleh geopolitik.


Keputusan Eko untuk melibatkan ibu-ibu yang bukan penari untuk menarikan koreografi di atas panggung pertunjukan tentu beresiko. Bentuk koreografis berisi unsur Likurai dan kosagerak sehari-hari seperti menenun kain gubahan Eko, tidak lantas memudahkan mereka menuntaskan koreografi berdurasi 60 menit ini. Disiplin latihan menjadi kunci.


Bertolak dari Likurai tidak serta merta menjadikan IBUIBU BELU: Bodies of Border sebagai panggung tari Likurai. Eko mengambil siasat dekonstruksi kosagerak Likurai yang lantas berkelindan dengan persoalan-persoalan di luar urusan menyambut tamu. Ada ihwal kerinduan yang terputus oleh perbatasan geopolitik, hingga duka oleh keterpisahan.



IBUIBU BELU: Borders of Bodies tidak banyak menggunakan musik. Nyanyian lagu-lagu khas Nusa Tenggara Timur, ritme tetabuhan Tihar hingga pukulan telapak tangan pada tubuh para penari mendominasi unsur bunyi dalam karya ini.


Karya ini menghadirkan Evie Anik Novita Nalle, Adriyani Sindi Manisa Hale, Yunita Dahu, Angela Levenia Leki, Feliciana Soares, dan Marlince Ratu Dabo di atas panggung. Mereka bukan penari profesional. Namun, di arena pertunjukan, mereka tak sekadar menarikan koreografi gubahan Eko.



Lebih dari itu, mereka tengah membagikan cerita batas-batas di sekitarnya. Bukan cuma lewat hentakan kaki dan gerak tangan, namun juga melalui tatap mata, suara parau, balutan tenun dan bunyi Tihar.


Dalam karya ini Eko didukung oleh Jan Maertens pada desain pencahayaan, Dimawan Krisnowoadji sebagai Komposer, Reene Sariwulan menjadi Dramaturg, dan desain tata busana oleh Vivi Ng. Usai pementasan di Teater Salihara, IBUIBU BELU: Bodies of Borders akan dipanggungkan di Australia, Jepang, Jerman, dan Belanda.

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon