top of page
  • Vicharius DJ

Seni yang Menggugah Rasa di ICAD 13

Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD) kembali hadir ke-13 kalinya. Setelah pandemi yang membuat pameran seni dan desain bertaraf internasional terdampak, ICAD hadir lebih kuat dan mengukuhkan posisinya di industri kreatif. Tahun ini ICAD mengusung tema Feel-Good Lab dan memamerkan karya 54 seniman multi-disiplin.


Kurator utama ICAD 13, Amanda Ariawan mengatakan mereka yang ikut pameran terjaring lewat program undangan dan seleksi secara umum. Ia juga menyampaikan bahwa tema yang diambil bukan sekadar selebrasi terhadap perasaan positif saja namun lebih dari itu. Salah satunya lewat perasaan evokatif atau momen menggugah rasa para audiens yang datang untuk menikmati berbagai karya seni yang dihadirkan di gelaran tersebut.

Kata laboratorium yang disematkan setelah kata 'Feel Good' juga bukan sembarangan dipilih. Laboratorium menjadi ruang berekspresi dan proses kreatifnya semata-mata memilih karya yang tak biasa.


“Kami ingin mengajak publik untuk berpikir kritis mengenai rasa feel good itu sendiri, yang mudah sekali diabaikan dalam keseharian kita. Perasaan itu harus diciptakan, para seniman yang memamerkan karya seni di sini menciptakan instrumen dengan kondisi positif,” katanya.


Karya-karya yang ditampilkan oleh para seniman dan desainer menawarkan pandangan yang lebih mendetail tentang berbagai gagasan mengenai kepedulian, humor, feel-good, dan emosi-emosi kontras yang ada di sekitarnya. Selain itu, beberapa seniman dan desainer juga menampilkan proyek yang paling mencerminkan praktik mereka saat ini, yang bisa berupa karya eksisting.


Salah satu seniman yang terlibat, Naufal Abshar menghadirkan karya seni instalasi di bagian utama lobi hotel yang merespons ruang pameran. Perupa asal Bandung itu menghadirkan berbagai bentuk televisi jadul yang ditumpuk sedemikian rupa dengan program-program lawas di dalamnya.

Naufal menjelaskan bahwa dia memang ingin menyajikan perasaan menyenangkan sekaligus nostalgia bagi para pengunjung. Terutama lewat berbagai media yang saat ini sudah mulai termakan zaman dan ditinggalkan publik, seperti koran hingga majalah yang saat ini sudah tidak terbit lagi.

“Sebenarnya aku mau menggambarkan sesuatu hal yang sudah hilang, karena semuanya sudah kembali ke smartphone,” katanya.


Selain Naufal, kolektif seni Jalanpulang ikut hadir dengan karya instalasi berbentuk jaring yang sebagian besar menutupi fasad gedung. Irfan, salah satu perwakilan dari Jalanpulang mengatakan, karya yang mereka hadirkan selain merespon ruang juga merespon kontrasitas.


Menurutnya apa yang dia jumpai di ICAD berbeda dengan apa yang mereka bayangkan sebelumnya, salah satunya kebisingan atau hiruk pikuk di Jakarta. Oleh karena itu, mereka mencoba menjembatani kebisingan di luar gedung dan ketenangan di ruang pamer. Salah satu strateginya adalah mengaburkan ruang luar dan ruang dalam lewat konsep karya di yang berada ruang transisi menggunakan medium jaring.

“Target kami adalah saat pengunjung masuk ke dalam gedung mengalami transisi kebisingan ke suasana yang lain. Harapannya saat mereka sudah masuk ke dalam sudah bisa secara smooth menikmati karya-karya di dalam galeri,” katanya.


Penyelenggaraan ICAD 13 2023 memperlihatkan peningkatan kolaborasi program yang signifikan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Edwin Nazir, selaku Festival Director ICAD 13, menekankan bahwa kolaborasi tersebut tidak hanya terjadi dengan mitra institusi.


“Gelaran tahun ini kami memang menantang para seniman untuk merespon ruang publik di hotel untuk menjadi area pameran. Sehingga akan menampilkan kejutan-kejutan baru yang mendekatkan karya seni pada pengunjung,” katanya.

Sebanyak 54 pelaku industri kreatif memeriahkan ICAD 2023 yang berasal di bidang seni, desain, musik, budaya, dan material baru. Di tahun ini, ICAD juga memberikan tribute kepada sosok Benyamin Suaeb dengan membuat satu ruang nostalgia yang merupakan hasil kolaborasi antara Studio Woork, La Munai Records, Cut and Rescue.


ICAD 2023 juga memberikan fokus kepada beberapa sosok seniman di antaranya Arahmaiani, Adhi Nugraha, Entang Wiharso, Irene Agrivina, Jalanpulang (Handiwirman Saputra, Kokok P, Sancoko, M Irfan, Sigit Pius, Kuncoro, dan Yuli Prayitno), Mit Jai Inn, Ramadhan Bouqie, dan Sinta Tantra.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page