top of page
  • Vicharius DJ

Suguhan Pasar Seni Alumni SR ITB

Forme Gallery Jakarta menjadi saksi bertemunya alumni Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1984. Mengusung tajuk Pop Up Martket, 25 alumni SR ITB menampilkan berbagai karya seni dua hingga tiga dimensi seperti lukisan, patung, hingga desain interior.


Penggagas pameran, Ary Juwono, mengatakan ihwal pameran ini bermula saat mereka melangsungkan reuni pada pertengahan 2023. Dari sinilah kemudian tercetus keinginan untuk kembali berkarya bersama, sambil mempererat tali silaturahmi, alih-alih hanya menikmati masa tua di rumah.

Adapun, tajuk Pop Up Martket dipilih sebagai tema, karena layout atau tata letak karya didesain laiknya supermarket. Konsep inilah yang membuat pameran ini menjadi unik. Sebab, puluhan karya seni itu juga dipacak bersama buah-buahan, aneka produk makanan, dan instalasi.


Menurut Ary, tujuan dari pameran tersebut adalah, agar angkatan mereka bisa tetap terus berkarya meski ada yang sudah tidak berprofesi sebagai seniman. Tak hanya itu, kegiatan berekspresi ini dilakukan agar pikiran mereka bisa tetap sehat di tengah zaman yang kian kompleks.


“Selain itu, yang lebih penting lagi, sudah tidak ada lagi rasa mana karya yang terbaik di antara kami. Sebab, kebersamaan berkegiatanlah yang menjadi tujuan utamanya,” katanya.

Salah satu karya yang menarik perhatian adalah karya tanpa judul dari Adil Indra Sidha. Lelaki yang kini menjadi konsultan desain interior di Indesain Interspace Aestetika, Jakarta itu memacak sepeda yang digunakan selama kuliah dengan latar ikon patung ganesha, dan catatan mengenai kisah sepeda tersebut dari pilinan kawat.


Keunikan lain dari pameran ini adalah karya patung berjudul, Sama-sama Tunggangan (2017) dari Ibenk Noor. Sesuai judulnya karya molding ini menggambarkan kuda berwarna putih dengan perempuan yang sedang duduk menyilang kaki di atasnya. Tak hanya itu, sang perempuan juga diposisikan berpose mengangkat kedua tangan, yang mengingatkan pengunjung pada sosok Monroe.


Kemudian, ada pula lukisan bertajuk Follow the Sun, cat minyak di atas kanvas, 82 x 120 cm karya Pius Prio Wibowo. Lukisan yang dibuat pada 2023 ini menggoreskan matahari bercorak emas dengan garis-garis dengan blok merah, putih, biru, dan putih yang simetris. Sedangkan, bagian bawahnya tergambar tumbuhan berwarna hijau di sisi kanan dan kiri bidang kanvas.

Kurator Asikin Hasan, mengatakan karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini menyuguhkan ego sektarian dari generasi tersebut. Terutama mengenai perkembangan seni rupa yang saat ini semakin cair, yang menyebabkan nama besar sebuah lembaga tidak bisa lagi dipertaruhkan tanpa mental seorang petarung.


“Seni rupa pada hari ini, tidak lagi berdiri pada setumpu filosofis yang elit dan ruwet, tetapi perayaan bersama yang ditunjang oleh kekuatan kapital, dan teknologi,” katanya.


Adapun, selain karya di muka, ada pula karya dari Adek Hendri, Adelinah CR, Adhy Putraka, Adil Indra S, Agung Handoko, Agus Suryana, Andrei FMT, dan Arif Adityawan. Kemudian ada juga Arya Bima, Bambang N, Baskoro S, Bragowo H. Eko Wibowo, Fuji Tjandra, Indra PA, Meiyani, Nuning D, Pius PW, Risadi Bramantyo, Wisnu, dan Yus Rusnaedi.   

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page