• Vicharius DJ

Universal Iteration, Tak Sekadar Memindahkan Karya Seni ke Ruang Virtual

Ada yang menarik dari galeri Salihara bulan ini. Sebuah ketopong sultan disajikan dengan cara yang tak biasa oleh seniman Blanco Benz Atelier. ketopong sultan yang ia buat saat ini masih berbasis digital dengan bentuk yang dinamis sesuai tingkat interaksi pengunjung di medium virtual galeri Salihara.

Uniknya lagi, Blanco Benz Atelier juga mengolah salah satu metode dan sistem pertukaran nilai yang tertua: sistem barter. Artefak digital dalam bentuk ketopong sultan Kerajaan Kutai yang dikombinasikan dengan langgam-langgam modern kemudian ‘dilelang.’ Pengunjung bisa melakukan upaya akuisisi dengan cara mengajukan objek atau benda-benda fisik miliknya yang dirasa memiliki nilai yang sama dengan karya bertajuk Ketopong Sultan ini.



Melalui karyanya, Blanco Benz Atelier tidak hanya menyoroti fenomena terkini perkembangan teknologi digital, tetapi juga berupaya melontarkan pertanyaan dan kritik terhadap perkembangan tersebut. Masa lalu tidak hanya dijadikan sebagai bentuk refleksi dan referensi, melainkan juga sebagai jangkar spekulasi masa depan yang dibayangkan dan ditawarkan olehnya.


Ketopong sultan merupakan bagian pertama dari pameran virtual panjang bertajuk Universal Iteration yang digelar Salihara. Karya Blanco dapat disaksikan sekaligus diperebutkan hingga 12 Juni mendatang. Setelah itu secara bergantian hingga 06 November 2021, Salihara akan menampilkan karya seniman lain seperti, Bandu Darmawan, Farhanaz Rupaidha, House of Natural Fiber & Institut Teknologi Telkom Purwokerto, Mira Rizki Kurnia, Natasha Tontey, Riar Rizaldi, dan Tromarama. Seluruhnya dikurasi oleh kurator seni rupa asal Bandung, Bob Edrian.



Bob menjelaskan, pameran Universal Iteration adalah pameran seni media yang mencoba menghadirkan bentuk-bentuk seni baru dalam jagat virtual. Hal ini sejalan dengan perubahan besar yang terjadi selama pandemi, di mana orang beralih dari dunia fisik ke dunia virtual atau digital. Hal itu juga terjadi di dunia seni.


“Ini kaitannya dengan akselerasi perkembangan sekarang, ya, tentang pemanfaatan internet. Jadi, bagaimana kita merumuskan suatu perhelatan yang memang basisnya perhelatan daring, bukan sekadar memindahkan karya-karya yang tadinya di ruang fisik, terus ke ruang digital,” ungkap Bob. “Jadi ini memang seniman-seniman dan karya-karya yang kita undang memang karya-karyanya itu diperuntukkan hanya bisa dinikmati lewat gawai,” lanjutnya.


Jika pameran virtual umumnya hanya memindahkan karya fisik ke medium digital yang diakses lewat berbagai aplikasi, lain halnya dengan pameran ini. Universal Iteration mengangkat karya-karya yang memang berbasis digital sejak awal dan disiarkan lewat media digital pula. Pameran virtual ini mengajak masyarakat menikmati pengalaman baru dalam mengapresiasi bentuk seni rupa berbasis digital.



Bob menambahkan, karya yang akan dipamerkan akan beragam dan sebagian bersifat interaktif. Semua karya memanfaatkan teknologi digital dan internet dalam proses penggarapan ataupun penyajiannya.


Selain Blanco, ada pula Riar Rizaldi yang memanfaatkan media film sebagai karyanya, atau karya Mira Rizki Kurnia dan Natasha Tontey yang menjadikan website sebagai medium utama karya mereka. “Ada yang berupa film dokumenter, karya yang sifatnya karya digital berbau NFT (Non-Fungible Tokens), ada juga yang membangun instalasi di ruang fisik yang nantinya akan dibuatkan pertunjukan di waktu-waktu tertentu, dan masyarakat bisa mengaksesnya dengan video 360 lewat website Salihara,” jelas Bob.


Tidak hanya mengangkat isu-isu yang luas, spektrum karya seniman berbasis digital ini juga akan memantik pembicaraan terkait teknologi dan kesadaran internet. Pameran ini bisa diakses oleh para penikmat seni melalui website galeri.salihara.org.




0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua