top of page
  • Vicharius DJ

Ningyo yang Mewakili Seni dan Budaya Jepang

Galeri Nasional Indonesia bekerja sama dengan The Japan Foundation menggelar pameran bertajuk Ningyo: Art and Beauty of Japanese Dolls. Ahmad Mahendra, Plt. Direktur Museum dan Cagar Budaya mengatakan pameran ini sebagai kolaborasi yang baik antara GNI The Japan Foundation. Di pameran ini, para penikmat karya dapat melihat cara unsur budaya tradisional dapat berkembang dan membaur dengan budaya modern. 


“Kerja sama antara GNI dan The Japan Foundation selalu membuahkan program atau pameran yang atraktif, menginspirasi, dan berkesan. Tak terkecuali dengan pameran Ningyo,” katanya. 

Dia berharap, para pengunjung dapat mengambil inspirasi dari pameran ini dan membantu mendorong pemajuan kebudayaan nasional. Pameran Ningyo: Art and Beauty of Japanese Dolls adalah bagian dari program pameran keliling yang digagas oleh The Japan Foundation di Tokyo, Jepang. 


Kehadiran pameran ini di Indonesia juga sebagai perayaan 65 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang. Selain di Jakarta, pameran ini juga akan digelar di Surabaya dan Bali.  Total karya yang dipamerkan pada pameran ini sebanyak 67 karya boneka tradisional dan modern, yang disertai dengan penjelasan sejarah, fungsi, dan penyebarannya dalam kebudayaan masyarakat Jepang. 

Mita Kakuyuki, kurator pameran mengatakan bahwa pameran ini akan mengkaji keanekaragamanan kebudayaan boneka Jepang dari empat sudut pandang. Pertama, sebagai doa untuk perkembangan anak. Kedua, sebagai seni rupa. Ketiga, sebagai seni rakyat. Keempat, terakhir dari sudut pandang penyebaran kebudayaan. 


Terminologi Ningyo, katanya, dalam Bahasa Jepang berarti boneka atau secara harfiah diartikan sebagai benda yang berbentuk manusia. Budaya boneka di Jepang sendiri telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jepang terdahulu. Pada awalnya, boneka muncul sebagai bagian dari ritual pengusiran roh jahat. 

Masyarakat menggunakannya  sebagai media doa pertumbuhan anak. Pada abad ke-17, boneka dapat ditemukan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, baik di istana kekaisaran Jepang atau tempat tinggal masyarakat biasa. Selain dapat menyaksikan berbagai karya, penyelenggara juga akan mengadakan beberapa program publik sebagai pelengkap, seperti pemutaran film, lokakarya kerajinan kurumie, dan lokakarya Daruma Felt. Film pertama yang dapat disaksikan berjudul Ride Your Wave (2019). Karya dengan durasi 96 menit itu mendapatkan arahan dari Sutradara Masaaki Yuasa.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

コメント


bottom of page