• Vicharius DJ

Videoperfomance dalam Medium Sosmed

Setelah sekitar empat bulan sejak pengumuman resmi pemerintah bahwa terdapat kasus positif COVID-19 di Indonesia, penjarakkan fisik masih merupakan imbauan utama agar penyebaran virus dapat diminimalisir. Saat berkumpul di ruang publik menjadi hal yang sangat dihindari, konsep media sosial sebagai ruang publik menjadi semakin relevan.


Melalui media sosial itu pula 69 Performance Club menghadirkan karya-karya video performans edisi ke-20 dari para seniman yang tergabung di dalamnya. Presentasi karya-karya video performans para seniman dilakukan lewat kanal media sosial instagram @69performanceclub.



Dalam hal ini, media sosial tidak hanya berlaku sebagai ruang sebagai tempat presentasi, tapi juga ruang dalam konsep abstrak, yakni ruang tempat kenyataan dan memori yang membentuk pemahaman kita dibuat.


Kamera mengubah apa yang kita lihat dan cara kita melihat sesuatu, apalagi ditambah dengan media sosial Instagram dengan sifatnya yang interaktif. Manusia, dengan representasinya, masuk dan beraktivitas di ruang yang menyimulasi dunia nyata, yang memungkinkan interaksi antarpengguna. Ruang tempat tindakan pengguna menjadi lebih penting dalam menyusun konstruksi gambar ketimbang produksi citra yang sudah selesai.


Praktik merekam diri sendiri merupakan hal yang lumrah dalam bermedia sosial. Praktik slide atau swipe dan tap ke kiri-kanan, bawah-atas merupakan gestur-gestur tindakan yang penting dalam menyusun gambar. Jadi, bermedia sosial dalam hal ini tidak hanya mengandalkan kepandaian menggunakan gawai dan aplikasinya, tapi juga mengandalkan gerak tubuh yang performatif.



Maka, replikasi dan distorsi pada video, ditambah dengan gerak melihat susunan gambar, akan membentuk konstruksi kenyataan baru pada ruang media sosial. Kenyataan yang berjalan paralel dengan kenyataan yang dihidupi oleh manusia dengan daging dan darah.


Oleh sebab itu, alih-alih menggunakan kanal instagram hanya sebagai tempat ekshibisi, melalui edisi kali ini, 69 Performance Club berusaha untuk melakukan pemaknaan yang lain terhadap ruang media sosial tersebut dengan membongkar tubuh, kehadiran, serta lapisan-lapisan dan fragmentasi kenyataan lewat eksperimen dalam medium video, seni performans, dan media sosial sebagai suatu persoalan yang utuh; yang juga tentunya berhubungan dengan permasalahan sosial politik dan kebudayaan dalam masyarakat.


Pada seni video, sebaliknya, representasi merupakan keniscayaan. Tubuh, yang merupakan presentasi, hadir dalam video sebagai tubuh representasi. Di dalamnya terdapat kerja permainan mekanika dan digital dalam berbagai teknologi.



Lalu bagaimana kebersituasian dalam seni performans dan representasi dalam seni video hadir secara bersamaan? Berbeda dengan seni-seni sebelumnya yang bertujuan untuk sekadar merepresentasikan realitas, teknologi kamera dapat mengubah perspektif kita dalam melihat kenyataan.


69 Performance Club adalah sebuah inisiatif yang digagas oleh Forum Lenteng untuk studi fenomena sosial kebudayaan melalui seni performans. Kegiatan 69 Performance Club berupa workshop dan performans berkala, diskusi, serta riset tentang perkembangan seni performans di Indonesia. Inisiatif ini terbuka untuk para pemerhati, peminat, dan pelaku seni performans untuk terlibat secara aktif menjadi bagian dari program-program 69 Performance Club.


Saksikan videoperformance dengan tajuk Inter-Realitas di akun Instagram @69performanceclub hingga 31 Julimendatang. Para seniman yang terlibat di antaranya, Pingkan Polla, Prashasti Wilujeng, Robby Oktavian, Dhanurendra Pandji, dan Dhuha Ramadhani. 

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon