top of page
  • Vicharius DJ

Visual Kubisme dan Abstrak Khas Handrio

Pameran bertajuk Dawai terselenggara di Art Agenda Jakarta. Pameran ini merupakan kelanjutan dari pameran karya The Modernist Series #4 hingga 26 Novembermendatang. Pada sebuah ruang, lukisan berdimensi 57,5x73 cm terpasang dengan rapi. Lukisan itu cukup multitafsir karena seakan menggambarkan geometri ruang namun di saat yang bersamaan merepresentasikan komposisi musik.


Karya itu milik perupa Handrio. Menurut kurator pameran, Stella Wenny, sebagai seniman, Handrio menurutnya kerap memasukkan instrumen-instrumen musik atau wujud geometri bidang di lukisan-lukisannya. Tak hanya itu, sebagai perupa ikonoklastik, Handrio juga memiliki berbagai peran yang berbeda dalam dunia seni rupa saat masih hidup. Sebab, selain berprofesi sebagai guru, pegawai negeri, pemain cello, hingga desainer grafis, Handrio adalah seorang komposer.


“Lewat lukisannya, Handrio kerap mewujudkan bentuk dan warna sebagai elemen individual. Dengan artian dia melihat hal itu seperti nada dan akord dalam musik yang harus disetel dan disusun agar menjadi kesatuan visual yang selaras,” katanya.

Hal itu misalnya terejawantah dalam karya berjudul Komposisi (oil on canvas, 74 x 55 cm). Lewat karya yang dibuat pada 1963 itu sang seniman melukis berbagai instrumen musik yang disederhanakan menjadi bentuk-bentuk esensial serta mengubahnya menjadi jejak-jejak representatif.


Stella mencontohkan, Handrio menyederhanakan instrumen musik lawat visual tuning pegs yang diubah menjadi lingkaran dan segitiga. Sementara itu, bagian leher (neck) dan papan jari (fingerboard) pada alat musik berdawai tersebut juga berubah menjadi persegi panjang yang terdistorsi.


“Lukisan tersebut seolah mengajak pengunjung untuk merenungkan apakah hasilnya masih dapat dianggap sebagai lukisan sebuah alat musik atau seperti yang disebutkan oleh judulnya, yakni sebuah komposisi dinamis yang tidak diharuskan memiliki nilai representatif,” katanya.


Sementara, kepiawaian sang seniman dalam merekonstruksi bidang gambar juga tampak dalam karya berjudul Dinamika Ruang (1981). Lewat karya berdimensi 90x70 cm menggunakan media oil on canvas itu Handrio seolah menciptakan ilusi ruang yang kompleks dengan penggunaan garis-garis yang tegas.


Visual tersebut misalnya termanifestasi lewat bidang-bidang miring dengan warna-warna kontras yang saling bertabrakan. Beberapa diantaranya seperti lewat palet merah cerah dan hijau hutan, biru langit dan kuning mustard, yang menghasilkan susunan yang asimetris tapi tetap seimbang.


Sebelum mendalami geometri murni, menurut Stella Handrio juga kerap menyederhanakan pemandangan alam dan perkotaan menjadi bentuk-bentuk dasar. Hal itu misalnya tampak dalam karya berjudul Village Scene (oil on canvas 110x87,5 cm, 1970) yang mengeksplorasi berbagai cara untuk memecah objek menjadi bentuk unik.


Dalam lukisan yang didominasi warna tanah itu sang seniman melukiskan rumah-rumah dan pohon-pohon tidak hanya dipipihkan pada sumbu Z saja. Namun juga pada bidang dua dimensi kanvas di mana tepiannya didorong dan ditarik menjadi bentuk-bentuk dasar, lalu diatur dengan tangkas agar visual hadir dalam garis seimbang.


“Warna yang lebih gelap dalam lukisan-lukisan Handrio mengindikasikan area yang lebih dalam, sementara warna yang lebih terang dan cerah menunjukkan bagian depan yang dinamis,” kata Stella.

Kolektor seni Syakieb Sungkar mengatakan, saat mendengar karya pelukis abstrak dan kubis pecinta seni Indonesia selalu merujuk pada seniman Bandung seperti AD Pirous atau Sadali. Padahal, di Yogyakarta juga ada seniman lain, yakni Fajar Sidik dan Handrio yang memelopori seni abstrak.


Sebagai salah satu maestro seni rupa Indonesia, menurutnya Handrio juga memiliki berbagai jenis gaya karya abstrak yang otentik. Beberapa di antaranya termasuk visual dinamika ruang, kubisme, dan lukisan dengan beberapa figur manusia sebelum beralih menekuni karya-karya niskala.


Adapun yang membedakan karya-karya Handrio dengan pelukis abstrak pada eranya adalah kesadaran sang seniman atas pemecahan bidang. Hal itu misalnya saat pelukis grup Bandung membuat figur yang dipotong-potong dan direfleksikan ke bidang kanvas, Handrio justru bergerak ke ranah lain.


Tak hanya itu, jika merujuk pada pelukis dari Bandung, mereka mayoritas dipengaruhi seniman Barat seperti Picasso dan Georges Braque. Sedangkan, dari segi gaya melukis karya Handrio agak sulit dicari sumber rujukanya dalam konstelasi pengaruh seniman Eropa pada abad ke-20. Keunikan lain dari karya Handrio adalah potongan-potongan objek yang terkesan membentuk volume. Sehingga visual tersebut menurut Syakieb seperti menghasilkan komposisi musik yang disusun secara matematis dan diperhitungkan dengan cermat oleh sang seniman.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comentários


bottom of page