© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Membaurnya Karakter Fantasi Dengan Identitas Masyarakat

10 Mar 2014

 

Siapa dari kita yang tak mengenal Pikachu? Tokoh kartun fantasi yang pada awal tahun 2000an membanjiri masyarakat lewat serial televisi. Pikachu merupakan salah satu tokoh protagonis dalam serial kartun Pokemon. Ia digambarkan dengan wujud hewan fantasi yang lucu, bewarna kuning, dan baik hati. Bila marah atau sedang diganggu, Pikachu akan mengeluarkan sengatan listrik agar musuhnya kapok dan lari menjauh.

 

Atau, bila kita tarik ke belakang, di akhir tahun 1980an, figur robot kucing masa depan yang lucu dan menggemaskan tiba-tiba menjadi idola anak-anak di zaman itu, Doraemon. Bersama dengan teman manusianya yang bernama Nobita, Doraemon melakukan banyak hal menakjubkan dengan kantong ajaibnya yang berisi peralatan canggih dari abad ke XXII. Tentu saja, itu semua hanya khayalan si pembuatnya.

 

Namun popularitas Doraemon tak kunjung padam. Bahkan hingga hari ini, serial kartunnya masih seringkali ditayangkan di televisi. Jika diurut satu per satu, orang Indonesia mungkin bisa saja menyebutkan serial apa saja dari negeri Sakura yang menjadi favorit mereka. Saking sukanya, tak jarang mereka membuat kostum tiruan yang bisa mereka gunakan dalam acara-acara bertema Jepang.

 

Aihara Hiroyuki, President Character Research Institute mengatakan, fenomena seperti itu juga terjadi di masyarakat Jepang di era 1970an hingga sekarang. Kata Hiroyuki, ikatan yang terjalin antara orang Jepang dan karakter ini muncul ke dalam berbagai aspek kehidupan. Secara simbolik, karakter tersebut muncul ke berbagai sudut kota sehingga mudah dikenali dan menjadi figur sosial.

 

“Menjamurnya fenomena ini membuat pola pikir masyarakat berubah. Sosok visual itu membuat para penggemarnya untuk menciptakan karakter ke dalam diri mereka hingga akhirnya menggantikan identitas asli mereka,” kata Hiroyuki. Uniknya, fenomena itu juga mulai menjamur di negara luar Jepang termasuk Indonesia. Bukti konkrit adalah meningkatnya popularitas Japan Expo yang semakin mudah diterima orang Indonesia.

 

Semua hal tentang karakter tersebut tergambar jelas dalam pameran budaya bertajuk Japan Kingdom of Characters di Galeri Nasional Jakarta. Bila penasaran anda bisa menyaksikannya hingga 23 Maret mendatang sebelum pameran itu melanjutkan estafet lagi ke negeri tetangga, Malaysia. “Kami harap pengunjung bisa memahami ikatan kuat yang dimiliki masyarakat Jepang dengan karakter ciptaan mereka,” ujar Hiroyuki.

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU