© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Representasi Manusia Dalam Karya Arsitektur

9 Feb 2016

Bagaimana seorang arsitek mengharmoniskan kebutuhan manusia dan sumber daya dalam sebuah karya arsitektur? Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh para mahasiswa yang tergabung dalma jurusan Desain Arsitektur dan Arsitektur Interior, Universitas Indonesia. Bertempat di Galeri Nasional, Jakarta, mereka menggelar pameran arsitektur bertajuk The World Without Us.

 

Pameran yang digelar pada akhir Januari lalu itu menampilkan 177 karya terbaik para mahasiswa. Kepala Departemen Arsitektur Universitas Indonesia, Yandi Andri Yatmo mengatakan The World Without Us menggarisbawahi persoalan pentingnya bersikap responsif terhadap konteks, baik sumber daya dan kebutuhan manusia.

 

“Melalui AFAIR 2016, mahasiswa Departemen Arsitektur UI berupaya untuk menyampaikan peran penting 'arsitek' untuk mengharmonisasikan kebutuhan manusia dan sumber daya yang terbatas,” ujar Yandi dalam keterangan persnya. Menurut Yandi, pameran ini bertujuan untuk menanamkan design thinking seorang arsitek untuk dapat mendesain dengan pendekatan yang merespon konteks. Memaparkan materi mengenai bagaimana menciptakan konsep desain yang merespon konteks sehingga memberikan dampak positif baik secara mikro (skala ruang diri) maupun makro (skala ruang masyarakat).

 

 

177 karya yang dipamerkan terdiri dari instalasi, maket, dan visualisasi lainnya  seperti foto, teks, diagram, dan lain-lain. Penyelenggara akan menyajikan konten dalam bentuk desain pameran yang dikemas secara apik. Selain pameran arsitektural, AFAIR juga akan diramaikan dengan serangkaian acara lain seperti diskusi dengan praktisi arsitektur.

 

Selain itu, juga akan diadakan puncak dari sayembara desain i-Shelter, berupa presentasi akhir dan penjurian oleh para akademisi yaitu Eko Prawoto, Budi Sukada, serta M. Nanda Widyarta satu hari berikutnya. Sayembara tersebut telah dimulai sejak September 2015 dan diikuti oleh mahasiswa seluruh Indonesia dengan latar belakang bidang pendidikan yang beragam.

 

Sebelumnya, AFAIR pernah didadakan di berbagai tempat lainnya. Seperti pusat perbelanjaan Grand Indonesia Shopping Mall, Cilandak Town Square (Citos), FX Sudirman, dan Kemang.  Pameran memunculkan sebuah kesadaran dan keinginan untuk memerhatikan dampak arsitektur (lingkung bangun) terhadap lingkungan tempat didirikannya (lingkung alam) dalam proses merancang.

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU