© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Kisah Kuno Calonarang dalam Balutan Teater Modern

21 Jun 2016

 

Calonarang begitu marah lantaran anak gadisnya, Ratna Manggali tak juga ada yang melamar. Pemuda desa enggan melamar karena takut dengan kesaktian ibunya, Calonarang. Mengetahui hal ini, Calong Arang marah dan menenung rakyat sebagai hukuman.Dia kemudian melakukan ritual pada Dewi Durga untuk menurunkan wabah penyakit ke seluruh wilayah dan rata-rata yang terkena penyakit kutukannya pasti mati. Banyaknya korban membuat Raja Airlangga memikirkan jalan keluarnya. Salah satunya adalah dikirim bala tentara untuk menumpas Calonarang. Usaha itu gagal.

 

Rupanya Calonarang terlalu sakti. Serangan itu malah membuat kemarahan Calonarang semakin menggebu-gebu.Raja Airlangga lalu mendapat petunjuk. Mpu Baradah, salah satu penasehat Raja bisa mengalahkan Calonarang. Salah satu strategi yang dilakukan adalah perkawinan politik yang tujuannya adalah menggerogoti dari dalam keluarga Calonarang, yakni mengawinkan muridnya yang bernama Mpu Bahula dengan Ratna Manggali.

 

Dikisahkan bahwa lamaran diterima oleh Calonarang lalu kawinlah Bahula dengan Ratna Manggali dan tinggallah Bahula di rumah mertuanya. Dari Ratna Manggali itu Bahula tahu bahwa Calon Arang selalu membaca kitab dan tiap malam melakukan ritual angker yakni kuburan. Setelah tinggal beberapa di rumah mertua, Bahula hingga akhirnya banyak mendapat informasi soal ritual yang ia lakukan.Hingga akhirnya bertemulah Mpu Bharadah dengan Calonarang di daerah Girah. Mpu Bharadah memperingatkan Calon Arang agar menghentikan kutukannya kepada penduduk. Janda itu mengakibatkan terlalu banyak kesengsaraan yang diderita oleh rakyat.

 

Sebenarnya saat itu Calonarang sudah bersedia menuruti Bharadah asalkan ia diruwat oleh Bharadah untuk melebur dosa-dosanya. Namun Bharadah tidak mau meruwatnya karena dosa Calon Arang terlalu besar. Terjadilah pertengkaran dan Calon Arang mencoba membunuh Bharadah dengan menyemburkan api yang keluar dari matanya. Bharadah lebih sakti dan sebaliknya Calon Arang mati dalam keadaan berdiri.Di akhir cerita Calonarang dihidupkan lagi oleh Mpu Bharadah untuk diberi ajaran kebenaran agar bisa mencapai moksa. Calon Arang merasa bahagia karena sang pendeta mau mengajarkan jalan ke surga.

 

Kelompok teater Sanskerta dengan begitu apik memainkan cerita itu dengan balutan drama, tari, dan musik dengan judul yang sama Calonarang. Teater ini adalah bagian dari upaya mahasiswa Universitas Prasetya Mulya dalam menjaga tradisi dan melestarikan kebudayaan.Sanskerta ingin menyampaikan berbagai macam pesan moral melalui salah satu bidang yang berbeda yaitu, seni. Tahun lalu upaya ini berhasil ketika mereka memukai penonton di Ciputra Artpreneur. Tahun ini prestasi itu kembali terulang ketika ratusan penonton terkesima puas melihat pertunjukkan mereka di Taman Ismail Marzuki, akhir pekan kemarin. Sungguh luar biasa! Proficiat!

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU