© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Perjalanan Hidup Aborigin dalam Balutan Seni

18 Jul 2016

 Yiwarra Kuju: The Canning Stock Route, merupakan paduan istilah bahasa Inggris-Australia dan bahasa asli Aborigin. Suku asli yang menempati daratan Australia sebelum kebudayaan Barat masuk. Kisahnya bisa disaksikan dalam sebuah gelaran pameran seni dan dongeng bertajuk Songlines: The living narrative of our nation di tiga kota besar di Indonesia; Jakarta, Makassar, dan Bali. Di sana kita bisa menyaksikan cerita dan karya seni seniman-seniman Aborigin dari Western Desert.Yiwarra Kuju adalah bahasa Aborigin.

 

 

Canning Stock Route adalah jalur peternakan yang dibuka oleh suku Aborigin. Pameran ini mengisahkan tentang keluarga, budaya, dan kelangsungan hidup serta dampak dari pembangunan jalan yang melintasi pemukiman penduduk Aborigin. Sementara pendongeng tersohor Australia Larry Brandy, seorang warga Wiradjuri dari New South Wales, tampil dalam sesi mendongeng interaktif untuk anak-anak.

 

Mereka akan ditemani pendongeng dari Indonesia, Resha Rashtrapatiji atau kerap dikenal dengan sapaan Kak Resha. Cerita dongeng yang akan dibawakan adalah tentang serba-serbi cerita tentang suku asal Larry yakni Wiradjuri yang merupakan salah satu suku Aborigin terbesar dari 500 suku yang ada. Kak Resha mengatakan dirinya bertugas menemani Larry dalam membawakan dongeng untuk pengunjung dan melakukan kegiatan yang atraktif. Pasalnya, Larry sendiri tak menguasai bahasa Indonesia.“Dia bercerita tentang kebudayaan Aborigin. Dia bawa juga alat-alat berburu seperti bumerang, kapak batu. Ada kegiatan bermainnya seperti nyanyi, pengenalan peta Australia, alat-alat berburu dan juga menari. Sekali pertunjukan dongeng, 45 menit,” jelasnya.

 

Alison Purnell, Atase Kebudayaan dari Kedutaan Besar Australia mengatakan Di program ini pihaknya ingin mengenalkan hubungan sejarah yang panjang antara Indonesia dan Australia khususnya antara Bugis dan Aborigin. Suku Bugis dahulu telah berlayar hingga Australia Utara. Dalam cerita dongeng ini kolaborasi antara orang keturunan Aborigin dan Indonesia.“Kami pilih dongeng karena jalan yang sangat mudah untuk berbagi pengetahuan dan pemahaman. Larry bercerita tentang suku Aborigin bagaimana cara menangkap kangguru, mencari makan, bagaimana cara menggunakan alat berburu. Untuk pameran seninya, lukisan berasal dari seniman-seniman berdarah Aborigin,” kata Alison.

 

Acara ini sebenarnya adalah rangkaian acara National Aborigin and Islanders Day Observance Commitee (NAIDOC) Week atau Pekan Budaya Penduduk Asli Australia. Sesi mendongeng yang berlangsung setiap Sabtu dan Minggu selama 16-24 Juli 2016 di Grand Indonesia Mall, Jakarta juga akan ditampilkan di Rumata Art Space, Makassar pada 19 Juli dan sekolah-sekolah di Bali pada 20 Juli.Kedutaan Besar juga akan memutar film The Sapphires pada tanggal 30 Juli di Kantor Kedutaan Besar Australia. Film ini bergenre drama komedi dan mengisahkan tentang kelompok musisi beranggotakan penduduk asli Australia yang berangkat ke Vietnam untuk menghibur para prajurit yang sedang berperang pada 1968. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU