© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Imajinasi Anak Berkebutuhan Khusus di Atas Kanvas

25 Jul 2016

 

Jangan pernah meremehkan anak khususnya mereka yang lahir dengan kebutuhan khusus. Meski tidak sempurna secara fisik, mereka tetap memiliki bakat yang tidak kalah dengan anak-anak lain. Seperti yang ditunjukkan oleh Neneng, seorang anak berkebutuhan khusus berusia 15 tahun dengan judul Memimpi.
 
Bersama 33 lukisan lain, karya milik Neneng dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta. Semua karya itu milik anak jalanan dan berkebutuhan khusus binaan pemerintah kota Surabaya bertajuk “Ciluuuuk Baaa....” Semuanya benar-benar sarat akan makna, polos, dan sangat mudah dipahami.
 
Anda akan disajikan sebuah karya berukuran 24 x 10 meter begitu memasuki galeri utama. Hanya ada keceriaan yang terpancar dari kombinasi cat warna-warni di setiap karya yang dipamerkan. Walikota Surabaya, Tri Rismaharini yang membuka pameran kemarin tak henti-hentinya memuji karya menakjubkan anak-anak ini.
 

 

Seperti ketika ia memuji karya milik Neneng tadi yang menurut Risma tidak bisa disepelekan. Dia merupakan anak indigo berkebutuhan khusus yang karyanya banyak dipuji. Bahkan Risma mengatakan, lukisan Neneng seperti Picasso. “Lukisan Neneng juga telah digunakan menjadi sampul buku beberapa penerbit. Dia yang paling aktif memberikan lukisan dan sering diundang ke acara seni,” ujar Risma.

 

Selain karya Neneng, lukisan lain yang menarik perhatian adalah milik Omay berjudul Tumbuh. Lukisan akrilik di atas Kanvas berukuran 190 cm x 140 cm itu menggambarkan sekuntum bunga mekar dengan kupu-kupu warna-warni dan kumbang di sekilingnya, di bagian bawah bunga, meskipun samar, tergambar seorang bocah laki-laki tengah tersenyum.
 
Menurut Risma, Omay adalah salah satu anak binaan UPTD Pondok Sosial Kalijudan Surabaya, bakatnya ditemukan oleh para pembimbing pada beberapa tahun silam.Anak itu telah beberapa kali mengikuti pameran, pertama kali karyanya dipajang di Pameran Mengelola Kemustahilan di Balai Kota Surabaya pada 2012 silam.
 
Dan yang mengejutkan, tidak membutuhkan waktu lama, lukisan Omay ini sudah laku terjual sesaat setelah seremoni pembukaan, harganya Rp 10 juta rupiah, dan sang pembeli begitu beruntung lantaran lukisan tersebut langsung ditandatangani oleh Risma sendiri.
 
Semua anak-anak ini sehari-harinya dibina di UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Kalijudan dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Wonorejo, Jawa Timur. Anak-anak ini tadinya sulit dibina karena biasa mendapat uang dari mengemis, korban perdagangan manusia (human traficking), mengamen dan kehidupan kelam lainnya. Namun mereka dibimbing untuk mengembangkan bakatnya.

 

“Awalnya anak-anak tersebut adalah anak-anak yang nakal dan tidak bisa diatur. Namun ketika dibimbing dan diarahkan seni seperti melukis, mereka bisa kok jadi anak manis,” ujar Risma.
 

 

Andi Prayitno, pendamping pelukis mengatakan bahwa mengajari anak-anak yang berkebutuhan khusus, dibutuhkan kesabaran tinggi dan metode khusus.Tidak ada terapan atau pembelajaran yang ia ajarkan namun komunikasi antara dia dengan anak-anak, terutama yang berkebutuhan khusus jadi modal utama.

 

“Ada yang secara goresan (lukisan) dia bagus, tapi warna kuning, dia gak hafal. Jadi salah satunya itu yang saya ajarkan, memberitahu warna-warna, mengulangnya terus-menerus hingga ia hafal,” ujarnya.

 

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU