© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Ekspansi Pegiat Industri Kreatif ke Panggung Dunia

18 Aug 2016

Salah satu hajatan besar dalam dunia seni dan kreativitas Popcon Asia 2016 telah berlangsung dengan sukses di Jakarta Convention Center. Ini kali kelima Popcon diselenggarakan dengan tema Pop Revolution. Sebuah kesempatan besar bagi anak bangsa yang bergelut dalam industri kreatif menuju panggung dunia.
 
Para profesional, seniman, dan kreator di bidang industri kreatif, terutama komik, toys, film, animasi, dan game dari tanah air berkesempatan besar untuk melebarkan sayap mereka. Proses berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan pegiat industri kreatif seperti Ross Tran (Amerika Serikat), Stanley Lau (Singapura), Russel Carpenter (Amerika Serikat), Park Taejoon (Korea Selatan), Artime Joe (Korea), Bryan Lie (Glitch Network) terbuka lebar.

 CEO Revata sekaligus pengagas Popcon Asia, Grace Kusnadi mengatakan Popcon Asia menargetkan 40 ribu pengunjung yang akan memadati 225 booth. Jumlah itu sedikit meningkat dibanding tahun lalu yang mencapai  37 ribu pengunjung dan menghasilkan penjualan lebih dari Rp 25 miliar.
 
Sementara itu Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf, yang membuka acara hari mengatakan lembaganya mengampanyekan slogan ‘Local Now, Global Later’. Konsep dari slogan itu terinspirasi dari keberhasilan pegiat industri kreatif di Korea Selatan. Menurut Triawan, mereka berhasil membuktikan bahwa pengembangan budaya lokal secara total mampu membuat kreativitas lokal Korea mendunia.
 
“Saya mengatakan gimana karya harus terlindungi, apalagi di era digital yang batas-batasnya sudah tidak jelas lagi. Lokal dulu sekarang, baru ke depannya global,” ujar Triawan.
 
Sebagai aksi nyata Local Now, Global Later itu, pada pembukaan Popcon 2016, sejumlah jagoan lokal itu hadir dan meramaikan acara. Sebutlah Wiro Sableng, Si Buta dari Gua Hantu, dan Gatot Kaca. Kehadiran mereka untuk menggelar sebuah pertunjukan berjudul ‘Insanirium’ yang mengusung tema revolusi industri kreatif di Indonesia. Di pertunjukan berdurasi 10 menit itu para jagoan lokal melawan arus industri asing yang makin digemari masyarakat. Mereka menyatukan kekuatan untuk memberantasnya.

 

 Pada ajang ini Revata dan Bekraf juga membuka kesempatan bagi para kreator untuk mendaftar, konsultasi, maupun sosiaisasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Selain itu, Bekraf bekerja sama dengan Dicoding dan Indesche Partif, gerakan inisiatif kolektif swadaya game developer independen Indonesia, dalam menyeleksi delapan game untuk ikut acara Popcon Asia 2016.
 
Pada hari terakhir, RUS Animation Studio, pembuat animasi Pasoa dan Sang Pemberani,  mencuri perhatian pengunjung yang umumnya anak muda. RUS merupakan akronim dari SMK Raden Umar Said, Kudus. RUS mendapatkan dukungan dari Djarum Foundation sehingga memiliki  studio animasi berstandar internasional.

 

Mereka juga mengembangkan tenaga pendidik animator. Bahkan Djarum Foundation bekerjasama dengan Woody Woodman dari Walt Disney Animation Studio memberikan dukungan mentoring untuk siswa-siswa SMK RUS.  Selain anak-anak SMK RUS, pada Popcon Asia 2016 ini juga diakan talkshow bersama animator kelas dunia, Kevin Jackson. Animator ini dikenal dengan sejumlah film animasi seperti Hotel Transylvania dan Alvin and The Chipmunks.

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU