© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Sambut Festival Film Arkipel 2016

18 Aug 2016

Kabar baik bagi pecinta film dokumenter dan eksperimental di Indonesia. Arkipel, 4th Jakarta Internasional Documentary and Experimental Film Festival 2016 kembali hadir mewarnai jagat perfilman nasional. Perhelatan akbar ini akan berlangsung selama sembilan hari dari 18 Agustus 2016 sampai 26 Agustus 2016 di enam lokasi seperti Goetehouse, Kineforum, Gedung Sarinah, Erasmus Huis, @America dan XXI Taman Ismail Marzuki (TIM).
 


Dalam penyelenggaraannya tahun ini terdapat 87 film dokumenter dan eksperimental dari 25 negara yang akan ditayangkan serta dua pameran.  Hafiz Rancajale, Direkrur Artistik Festival yang juga Ketua Forum Lenteng menjelaskan, Arkipel sebagai refleksi atau fenomena global dalam konteks sosial, politik, ekonomi dan budaya melalui sinema. Gagasan festival ini adalah menyuarakan pensoalan-persoalan kebudayaan dapat dibaca dalam kurun waktu tertentu.
 
“Idealnya, festival film dapat menjadi agenda yang menghadirkan capaian puncak sutradara-sutradara dari berbagai kalangan, baik secara estetika dan kontennya,” jelas Hafiz.
 
Hal tersebut sejalan dengan visi-misi Forum Lenteng sejak perintisannya tahun 2003 menjadikan pengetahuan media dan kebudayaan bagi masyarakat untuk hidup yang lebih baik, terbangunnya kesadaran bermedia, munculnya inisatif, produksi pengetahuan, dan terdistribusikannya pengetahuan secara luas. Nama Arkipel sendiri diambil dari kata archipelago yang merujuk pada istilah bahasa Indonesia, ‘nusantara’ yang muncul sejak awal abad ke-16.
 
Nusantara yang merupakan gugusan ribuan pulau ini menyimpan sejarah panjang tentang globalisasi baik secara politik, budaya dan ekonomi. Lebih dari 500 tahun lalu, wilayah ini menjadi tujuan utama bagi para penjelajah Barat untuk menemukan wilayah-wilayah baru untuk dikuasai atau sebagai rekanan dunia dagang. Selain bangsa Eropa, bangsa Timur (Cina, Arab, dan India) telah menjadikan kawasan Nusantara ini sebagai tujuan penjelajahan dalam misi-misi dagang mereka seperi rempah-rempah dan sutra.
 
Penjelajahan yang diharapkan terjadi selama Arkipel adalah penjelajahan gagasan sinematik. Film dokumenter yang dimaksud Forum Lenteng adalah film dokumenter yang merujuk pada bahasa film yang berlaku dalam tradisi sinema, bukan filem dokumenter televisi. Dalam tradisi sinema film dokumenter juga dapat menghadirkan drama konflik imajinasi, dan ruang kritik bagi penonton.
 
“Hal ini tentu berkaitan dengan bagaimana eksperimental bahasa sinema yang dilakukan oleh sutradara dalam mengemas kenyataan,” jelasnya.

 

 

Sedangkan film eksperimental yang dimaksud adalah bagaimana eksperimental medium dan konten dalam film menghadirkan kebaruan secara estetika. Hal ini merujuk pada sejarah sinema avant-garde dalam sejarah sinema dunia. Eksperimental di sini, bukan hanya dalam konteks filmnya saja, namun juga bagaimana film digunakan dalam tindakan yang mengaktivasi persoalan-persoalan sosial kebudayaan di ranah publik.

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU