© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Menikmati Koleksi Istana di Hari Kemerdekaan

Seni menjadi saksi sejarah bagaimana bangsa Indonesia bisa meraih kemerdekaannya dan menjadi negara yang berdaulat. Sepajang republik ini berdiri telah lahir ratusan seniman yang turut memberikan kontribusinya bagi negeri. Tentu saja dengan karya-karya seni mereka, mulai lukisan hingga karya tiga dimensi. Sebagian besar di antaranya begitu melegeda hingga karya mereka dipajang di Istana Negara.
 
Sebuah kebanggan tentunya bagi seniman-seniman ini dan kesempatan besar buat kita untuk ikut menikmati karya itu hadir di bulan ini. Bulan Agustus yang memiliki arti mendalam buat bangsa Indonesia sebagai momentum merayakan sejarah. Di Galeri Nasional, Jakarta, semua karya legendaris milik seniman Indonesia bisa disaksikan untuk masyarakat umum.

 

 

Dengan mengambil tema 17:71 yang berarti 17 Agustus ulang tahun kemerdekaan ke 71, penyelenggara menampilkan 28  lukisan dari 20 maestro. Mereka di antaranya adalah Raden Saleh, Affandi, Basoeki Abdullah, dan satu lukisan karya Presiden Soekarno sendiri berjudul Rini. Istana Kepresidenan memiliki lebih dari 15 ribu benda seni, 3 ribu di antaranya merupakan lukisan. Pameran lukisan koleksi Istana ini merupakan yang pertama dihelat.
 
“Narasi utama pameran ini adalah mempertautkan wacana seni dan kemerdekaan. Goresan Juang Kemerdekaan adalah imaji, citraan, gambaran serta visualisasi yang mengisahkan kisah-kisah heroik, bersejarah dan mengandung semangat merdeka,” kata Mikke Susanto, kurator pameran.
 
Cerita di balik lukisan ataupun sejarah pembuatan lukisan, memang sangat menarik untuk diikuti, terutama bagi para penikmat seni. Semisal, 'kode-kode rahasia' yang diisyaratkan Raden Saleh di lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro. Juga kisah rayuan maut Soekarno membeli sebuah lukisan karya seniman Meksiko.
 

Pameran ini dibuka untuk umum hingga 30 Agustus mendatang. Anda tak perlu kuatir bila datang ke sana sebab selain ditemani kurator, pengunjung juga akan ditemani oleh satu narasumber ahli, antara lain sejarawan Peter Carey, jurnalis Aryo Wisanggeni, Kepala Galeri Nasional Tubagus 'Andre' Sukmana, staf pengajar Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta Citra Smara Dewi, serta kritikus Agus Dermawan.
 
Mereka akan hadir dalam layanan tur yang diadakan setiap hari minggu hingga pameran ini berakhir. Selain lukisan, Istana Negara juga menyajikan pameran buku-buku langka yang berisi mengenai informasi tentang Presiden dan Istana. Sejumlah buku yang dipamerkan dalam gelaran pameran kali ini adalah lukisan koleksi Ir Dr Soekarno, kompilasi Dullah, Penerbit: Pustaka Rakjat Peking, Tiongkok, edisi 1-2, 1956 (Koleksi Museum Dullah).

 

 

Lukisan dan patung koleksi Ir Dr Soekarno, Presiden Republik Indonesia, kompilasi Lee Man Fong, Penerbit: PT. Topan Tiongkok, Jepang, edisi 1-5, 1964 (Koleksi Museum Dullah), dan Lukisan Koleksi Ir. Dr. Soekarno, kompilasi Dullah, Penerbit: Pustaka Rakjat Peking, Tiongkok, edisi 1-4, 1956. Bertanda tangan asli Presiden Soekarno (Koleksi Museum Dullah) dan masih banyak lagi. Jadi jangan sampai Anda melewati kesempatan beharga ini ya!

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU