© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Jejak Kemerdekaan dalam Foto & Replika Kereta

29 Aug 2016

Sekelompok tentara pelajar yang berjalan santai. Tiga orang diantaranya tampak trendi memakai kacamata hitam dengan gagang tebal. Lengkap dengan baret di kepala, senjata disandang di bahu, serta amunisi di pinggang. Mereka sangat percaya diri. Tentara-tentara muda itu rupanya tahu akan dipotret. Dengan kompak mereka menoleh ke arah sang fotografer yang memotret mereka.

 

Foto itu ternyata salah satu hasil jepretan Th van de Burgt, fotografer yang bertugas di Dienst Legercontacten (DLC) atau Army Contact Service. Sejarawan dari Yayasan Bung Karno Rushdy Hoesein menjelaskan bahwa foto yang aslinya tersimpan di Nederland Nationaal Archief, Den Haag, Belanda itu diambil saat penarikan pasukan Belanda dari Solo pada 12 November 1949.

 

 

Benda dengan nilai sejarah yang tinggi itu jadi salah satu yang dipamerkan di Pameran Foto 71 Tahun Bingkisan Revolusi di Galeri Foto Antara, Jakarta. Selain foto Th van de Burgt, dipamerkan juga puluhan foto zaman revolusi yang dihasilkan dari sudut pandang prajurit Belanda lainnya yakni Charles van der Heijden. Dari kamera Charles yang berpangkat sersan dan bertugas di DLC bisa dilihat aktivitas pasukan Belanda saat Agresi Militer I di Jawa Timur.

 

Sebagian besar karya Charles kini tersimpan di Museum Bronbeek, Arnhem yang berada di bawah Kementerian Pertahanan Kerajaan Belanda. Potret Bung Karno yang berada dalam pesawat Dakota juga menarik. Foto koleksi Firman Ichsan anak dari Sekretaris Negara Mochamad Ichsan memperlihatkan Presiden Sukarno sedang bercakap santai dengan salah satu anggota rombongannya dalam perjalanan ke Aceh dan Sumatera Utara pada Juni 1948. Foto-foto itu hasil bidikan pewarta foto Indonesia Press Photo Service (IPPHOS).

 

Bukan hanya foto, benda bersejarah yang ikut dipamerkan adalah replika gerbong kereta yang menyelamatkan Soekarno, Hatta, dan beberapa tokoh lain dari ancaman Belanda pada 3 Januari 1946. Menurut Rushdy, tokoh nasional itu diancam dibunuh, suasana mencekam. Untuk mengamankannya, disiapkanlah kereta untuk membawa mereka ke Yogyakarta.
 

 
Kereta berjalan mundur dari stasiun Manggarai ke Cikini tepatnya di belakang rumah Soekarno. Selama pejalanan menuju Yogyakarta, kereta berjalan pelan, tak ada satu pun penerangan, seolah-olah sedang tidak ditumpangi. Sesampainya di Bekasi, barulah lampu-lampu di kereta dihidupkan karena situasi sudah aman. Selain itu, kereta tersebut menggunakan lokomotif tercanggih pada masanya.
 
Direktur GFJA yang juga merangkap sebagai kurator pameran, Oscar Motuloh mengatakan replika tersebut adalah sumbangan dari Museum Angkut dan merupakan primadona pameran tersebut. Materi pameran yang mengambil rentang waktu 1945-1950 didapatkan dari kantor berita IPPHOS untuk foto-foto, Museum Bronbeek untuk materi dari Belanda, dan filateli dari Perhimpunan Filateli Indonesia.
 
Tidak hanya dari sisi Indonesia, di pameran ini juga ditampilkan dari sisi para pemuda Belanda yang dikirim ke Indonesia. Hal itu, menurut Oscar menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak didapat begitu saja dan negeri ini dibangun dengan perspektif kemerdekaan oleh para pemuda pada masa itu. Menggunakan sumber primer adalah salah satu hal yang cukup sulit dilakukan dalam melaksanakan acara tersebut, namun Oscar menilai menggunakan sumber primer adalah hal penting.

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU