© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Sains, Sastra & Seni Kaligrafi dalam Satu Karya Apik

29 Aug 2016

Bagaimana bila seni kaligrafi dikombinasikan dengan untaian kata indah dalam bait puisi serta ilmu pengetahuan? Apakah bisa? Melissa Sunjaya sudah mencobanya. Di Galeri Salihara, Jakarta, Melisa memamerkan lukisan kaligrafi yang tak biasa. Ia memberi tajuk Bio Fantasy di mana ia menggabungkan kaligrafi dengan kutipan puisi Chairil Anwar dengan sketsa bakteri yang pernah ia lihat dari sebuah mikroskop.
 

Mengapa harus Chairil Anwar? Bermula dari dua tahun lalu, Melissa mulai meriset perjalanan Chairil serta makna dari kutipan-kutipan puisinya. Dia lalu bertemu dengan Prof. Dr.Burton Raffel, seorang sastrawan Amerika Serikat yang menerjemahkan karya Chairil dalam bahasa Inggris 'The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar'.
 
Perjumpaannya pada Maret 2015, memperluas pemikiran Melissa terhadap sosok Chairil Anwar. Minatnya bertambah besar untuk mencari tahu mengenai pujangga yang terkenal dengan puisi Aku dan Krawang Bekasi itu. Menurutnya, pujangga yang karya-karyanya masih menggema dan familiar di generasi muda memiliki kekuatan kata-kata.
 
“Saya menampilkan kutipan-kutipannya dalam 75 karya visual abstrak yang ada banyak makna tersembunyi. Uniknya hanya bisa dilihat lewat lensa merah, hal yang biasa dan sederhana tapi mengungkapkan yang tersembunyi di balik karya saya,” ungkap Melissa.
 
Lantas apa hubungan karya Melissa dengan sains? Jauh sebelum ketertarikan terhadap sosok Chairil, Melissa sudah terlebih dahulu jatuh cinta terhadap dunia sains. Setiap sel yang pernah dilihatnya lewat mikroskop, dicatatnya, lalu digambar layaknya sebuah sketsa di buku berukuran kecil. Sketsa berisi sel-sel tersebut masih disimpannya sampai penjelajahannya terhadap Chairil.
 
Baru kemudian hari muncul ide menggabungkan antara skesta sel-sel dengan kaligrafi kutipan-kutipan Chairil. Awalnya, Melissa menuliskan kaligrafi di atas kanvas putih lalu menimpa-nya dengan sketsa sel-sel. “Ada teknik khusus sehingga hanya bisa dilihat pakai lensa merah,” jelasnya.

 

 
Tak hanya lukisan-lukisan abtrak tersembunyi Chairil saja, tapi di pameran itu juga terdapat lima dinding latar belakang penjelajahan Melissa yang ditulisnya langsung di Galeri Salihara atau on site. Dia pun memajang bagan atau tabel yang menceritakan ilmuwan-ilmuwan yang menginspirasinya.

 

Melissa pun mengajak pengunjung yang hadir di eksibisi tunggalnya untuk berinteraksi. Lewat lensa merah menjadikan para pembaca bagian dari instalasi seni bermakna ganda tentang puisi. Tak hanya unsur sains atau sel, kaligrafi atau lettering, maupun lukisan bergaya abstrak, tapi ia berhasil menemukan perpaduan yang pas untuk menceritakan ulang sosok Chairil Anwar kepada generasi masa kini.

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU