© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Seni Kontemporer yang Menyatu dengan Desain Hotel

29 Aug 2016

Di manakah Anda bisa menikmati gelaran karya seni kontempore? Di galeri pameran dan museum? Benar tapi tak selamanya demikian. Kadang untuk mencari suasana baru dalam dunia seni, kita memang mesti keluar dari jalur yang tak biasa. Seperti yang dilakukan oleh para seniman muda ini ketika menciptakan konsep, desain, dan gaya hotel yang berbeda.


Berlokasi di pusat bisnis Kota Jakarta, Artotel Thamrin menjadi satu-satunya hotel yang konsen dengan perkembangan seni kontemporer, baik seni rupa, seni patung, maupun seni fotografi. Perhatian Artotel pada perkembangan urban art di Jakarta juga ditunjukkan dengan tingginya intensitas menggelar pameran seni rupa, salah satunya adalah pameran bertajuk Rise and Grind yang digelar hingga 21 September 2016.
 


Pameran Rise and Grind merupakan pameran seni rupa berkonsep underground, kaya akan nuansa edgy, yang menampilkan tiga karya seniman muda berbakat, yaitu Safrie Effendi, Danan Prihantoro, dan Mikhaela Cherry. Safrie Effendi, lulusan S2 Lasalla College of The Art yang juga dipercaya menjadi Art Manager Artotel Indonesia
 
Dia mengatakan, jauh dari kesan dark dan hitam, berbagai karyanya yang dipamerkan justru mengandung makna mendalam tentang arti penting kembali ke jati diri manusia yang lahir dari suku dan bangsa-bangsa yang berbeda.
 
“Banyak orang mengartikan bahwa tengkorak kematian, atau menjunjung setan, no men i mean ini juga menjadi bagian dari tubuh kita, kerangkanya kita. Di dalam lukisan ini aku juga memasukkan unsur kupu-kupu yang identik dengan develop, ada harapan yang dibangun di situ,” kata Safrie.
 

 

Sejalan dengan Safrie, Mikhaela Cherry juga menampilkan sisi kultural yang terbalut kesan dark dalam lukisan-lukisannya. “Kenapa aku agak lebih banyak mengekspose bagian kepala, karena nyambung sama mind, dari pikiran segalanya berawal,” katanya. Melalui pameran ini, Artotel mengharapkan masyarakat bisa melihat seni bukan hanya dari sudut pandang visual-visual yang indah, namun juga bisa menerima street art sebagai aliran seni yang juga bisa dinikmati.

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU