© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Ekspresi Keperihatinan Tisna Sanjaya

Ketika pohon menjadi kayu, kertas, tisu dan jutaan hal-hal lain, di waktu itu pula kita sudah mengundang kehancuran dalam rumah tangga. Ketika kita membiarkan pabrik melepaskan limbah beracun ke sungai, ketika itu pula kita siap melepaskan dahaga kita melalui secangkir air kematian.

 

Kebakaran hutan, laut es mencair di kutub utara, hilangnya pulau-pulau adalah bagian dari acara kepunahan massal yang melibatkan seluruh mahluk hidup. Itulah alasan mengapa aktivis dan jurnalis lingkungan tak pernah henti mengingatkan kesadaran manusia melalui karya mereka.

 

Para seniman pun ikut ambil bagian. Mereka juga ingin berbicara banyak tentang isu ini. Salah satunya Tisna Sanjaya (58), seniman asal Bandung yang menggabungkan visual serta performance art untuk mengekspresikan keperihatinannya atas kerusakan alam. “Saya percaya seni bisa membuat perbedaan di dunia saat ini,” kata Tisna.

 

Bertempat di galeri seni Erasmus Huis, Jakarta, Tisna mempersembahkan karyanya dalam pameran bertajuk Siklus Abu. Eksebisi ini berdasarkan filosofi pribadi Tisna yang berakar dari kebudayaan Sunda, nilai tradisional, serta ritual budaya yang berada di sekitarnya. Sepanjang kariernya berkesenian, dia selalu menyelaraskan antara lingkungan dan sisi manusianya yang berasal dari tradisi nenek moyang.

 

 

Hingga 31 Oktober mendatang, Anda dapat menikmati seluruh karya Tisna yang tersaji. Di antaranya adalah 'Oray-orayan' (permainan anak-anak ular tangga), 'Hujan Poyan' (hujan dengan sinar matahari), 'Ngakeul' (mempersiapkan menanak nasi), dan 'Siklus Abu' (Siklus Debu).

 

Instalasi dan pekerjaan karya seninya akan mengeksplorasi berbagai benda sehari-hari. Dia menggunakan keranjang beras, selembar seng, sebuah kapal, alat barbeque dari bambu, air dari mata air, debu, rempah-rempah, pelet plastik, beras, dan benda lainnya. Di ruang pameran Erasmus Huis, para pengunjung akan diajak untuk merenungkan masalah tentang situasi, kondisi lingkungan saat ini, memikirkan solusinya, dan menciptakan lingkungan yang lebih baik lagi.

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU