© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Cerita Klasik Perancis dengan Rasa Indonesia

29 Sep 2016

Sudah lama Jakarta tak mendapatkan sajian hiburan teater. Akhir pekan kemarin, keinginan itu akhirnya terpenuhi ketika Perkumpulan KataK Independen mementaskan produksi perdananya berjudul 'The Musketeers'. Lakon itu diadaptasi dari karya penulis asal Prancis, Alexandre Dumas.

 

Jika mendengar nama Musketeers pasti tidak asing di telinga kalian. Ya The Musketeers mengisahkan tentang pemuda miskin asal Gascogne bernama D'Artagnan yang berkelana ke Paris untuk mewujudkan mimpi menjadi anggota musketeer kerajaan. Musketeer adalah pasukan penjaga yang biasa mengawal saat raja bepergian ke luar kediaman kerajaan.

 

Perjalanan ini membawa D'Artagnan terlibat ke dalam berbagai intrik politik Kerajaan Prancis. Semua bermula saat ia terlibat perkelahian dengan pasukan Rochefort, kaki tangan KardinalRichelieu, di sebuah rumah makan.

 

 

Lalu, di tengah usaha pencarian terhadap Rochefort untuk balas dendam, D'Artagnan justru berpapasan dengan tiga musketeer penjaga Raja Louis XIII: Athos, Porthos dan Aramis. Mereka terlibat pertengkaran, hingga D'Artagnan menantang duel ketiga musketeer tersebut satu per satu.

 

Dalam pentas yang disutradarai oleh Vladimir Ivan itu, KataK berkolaborasi dengan Drama Club Sastra Inggris Universitas Bina Nusantara (Binus). KataK sendiri didirikan oleh empat mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang yang mendirikan komunitas bernama Anak UKM Teater UMN (Autumn).

 

Pada 12 Juni 2009, teater ini diperkenalkan sebagai UKM resmi di UMN. Namanya pun berganti menjadi Teater KataK yang mengusung moto "Berani melompat lebih tinggi melewati batasan yang ada". Huruf "K" di awal dan akhir KataK menunjukkan keseimbangan pada diri tiap anggotanya dalam menjalani dunia di dalam dan luar seni peran.

 

 

Sejak itu, Teater KataK mulai rajin berproduksi, hingga rutin mengadakan pentas besar setidaknya setahun sekali di luar kampus UMN, dari Apakah Cinta Sudah Mati di Gedung Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, pada 2012; Perkawinan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, pada 2013; Dokter Gadungan di GKJ pada 2014; serta Benarkah Cinta Sudah Mati di Teater Kecil dan Kebun Ceri di GKJ pada 2015.

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU