© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Pembuktian Jati Diri dari Atas Sebuah Kertas

28 Oct 2016

Kertas dan bolpoin adalah dua benda yang selalu mudah kita temui dalam aktivitas harian.  Di sekolah, kampus, atau tempat kerja. Meski terkesan remeh, dua benda ini bagi seorang seniman seperti Widi S Martodiharjo tetaplah sangat berharga. Sebab dari hal yang remeh itulah, Widi melahirkan karya-karya besarnya.

 

Widi memiliki latar belakang desain grafis yang kuat. Mungkin itu jadi salah satu faktor mengapa dia memilih kertas sebagai medium lukisannya ketika hijrah ke Ubud, Bali. Di Pulau Dewata itu melukis dengan kertas bukanlah hal yang normal. Kebanyakan mereka masih setia pada medium kanvas.

 

 

Anggapan teman-teman senimannya yang bilang bahwa lukisan di atas kertas tak laku dijual pun tidak bisa menyurutkan niat Widi. Dia semakin gila dan tertantang bahwa anggapan itu salah. Naluri kreativitasnya pun bekerja. Widi mulai membuat karya yang berbeda dengan menggunakan media kertas pembungkus makanan.

 

Sekitar delapan bulan berjalan akhirnya ratusan karya berhasil ia buat dengan menghabiskan 400 bolpoin. Semua karya itu kini dipamerkan dalam pameran tunggal bertajuk In Between di Bentara Budaya Jakarta. “Apa yang saya lakukan adalah bentuk perlawanan. Dengan benda yang selama ini tidak dianggap penting kita bisa membuat karya yang berharga,” kata Widi.

 

 

Dalam pameran tersebut, Widi menampilkan lukisan raksasa berukuran 2,4 meter x 9 meter berjudul Semesta Raya. Selain itu ada pula lukisan berjudul Jarak Kurun Waktu yang kebetulan ia lukis di atas kanvas. Pameran itu terbuka bagi publik yang ingin menyaksikannya hingga 29 Oktober mendatang.

 

In Between sepertinya menjadi langkah besar dalam sejarah hidup Widi setelah keputusannya meninggalkan pekerjaan sebagai ilustrator 16 tahun lalu. “Karya-karya ini menggambarkan hubungan manusia dan Tuhan yang jaraknya sangat tak terhingga namun sekaligus tak berjarak jika kita melakukan ritual,” ujarnya. 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU