© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Festival Teater Jakarta Kembali Digelar Untuk Kali Ke-43

25 Nov 2016

Festival Teater Jakarta ke-43 kembali diselenggarakan. Pembukaanya diresmikan pada Senin pekan lalu dan akan berlangsung hingga 9 Desember mendatang. Pada malam pembukaannya, FTJ menghadirkan pentas kolaborasi dari sejumlah seniman di Plaza Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Pentas itu diberi  judul T.T.T (To the Tit) dan  berlangsung di sekitar sekaligus merespons instalasi bambu berbentuk paus raksasa  The Leviathan Lamalera karya Jonas Sestakresna (Denpasar).

 

Yustiansyah turut menyampaikan bahwa kolaborasi yang ditampilkan hendak menghadirkan perasaan kegelisahan. “Gelisah pada kondisi di antara. Transisi sebagai peristiwa yang tidak stabil. On being. Dari dan mau ke, dapat juga sebagai gambaran peristiwa yang tidak ajeg,” tuturnya.

 

 

Selain Yustiansyah pentas itu adalah hasil kolaborasi dari Jonas Sestakresna & Rumah Kreatif Jati Tujuh yang berfokus pada instalasi, APE (After Party Experiment) dan VJ Macula untuk multimedia atau video mapping, kemudian Ensemble Tikoro untuk guttural vocal ensemble, Taufik Darwis (dramatug) serta Yustiasyah sendiri Lesmana yang merupakan seorang sutradara.

 

Jonas Sestakresna adalah seniman rupa yang berfokus pada media baru dan dikenal lewat penciptaan berbagai pertunjukan multimedia dengan instalasi bambu. Sementara, Yustiansyah  sendiri adalah Sutradara Terbaik Festival Teater Jakarta 2014 lewat pementasan Likukuliku (2014) produksi Teater Ghanta.

 

Kemudian Taufik Darwis, seorang dramaturg yang aktif bersama Bandung Performing Arts Forum (BPAF). Dan Ensemble Tikoro adalah kelompok paduan suara yang memainkan suara leher dengan mengolah teknik vokal dalam musik metal, extended vocal, gangsa, ngolotrok dan teknik throat singing lainnya.

 

 

FTJ tahun ini mengambil tema bertajuk Transisi yang ditulis seakan kata "trans" dan "isi" terpisah. Tema Trans Isi itu diambil sebagai upaya untuk melepas batas antara tradisi dan modern.  Afrizal Malna, Ketua Komite Dewan Kesenian Jakarta menjelaskan dalam konteks sejarah seni pertunjukan Indonesia, pelaku seni pertunjukan teater sering kali terjebak dalam pemilihan bentuk teater yang ekstrim mengacu pada adanya perubahan. Ketika salah satu bentuk teater dipilih, teater modern misalnya, maka mereka akan meninggalkan teater tradisional.  “Pada kenyataannya, teater tradisional ini masih ada di pasar dan memiliki pasar,” kata Afrizal.

 

Dengan melepas batas itu, Afrizal mengharapkan teater-teater tradisional bisa terlibat lagi dengan perubahan-perubahan yang terjadi sekarang.  Para pelaku teater yang terlibat dalam pementasan FTJ, baik modern maupun tradisional, diharapkan bisa menghasilkan karya yang melepas batas-batas dikotomi antara tradisional-modern.

 

Trans Isi juga disebutkan menjadi visi Dewan Kesenian Jakarta untuk mengubah citra orientasi Festival Teater Jakarta.  Menurutnya, FTJ saat ini belum bisa beranjak dari anggapan masyarakat dan juga pelaku seni itu sendiri, bahwa festival itu hanya sekedar sebagai lomba. “Kami ingin FTJ lebih dari sekadar lomba. Diharapkan kelompok teater yang tampil bisa memosisikan diri sebagai sebuah seni pertunjukan yang mampu merespons kondisi lingkungannya,” ujar Afrizal.

 

Kelompok-kelompok teater yang akan tampil di FTJ 2016 terbagi ke dalam “empat sayap”: Sayap Utama, Sayap Tamu, Sayap Klasik, Sayap Perspektif. Sayap Utama berisi penampilan 16 grup teater yang menjuarai babak penyisihan Festival Teater Jakarta di lima wilayah DKI Jakarta.

 

 

Mereka adalah Sanggar Kummis, Teater Mantera, Mutiara Utara Bintang Lima, Lab Study Teater, Teater Semut Unsada, Teater Ranggon Sastra, Teater Magma 50, Kembali Satu (K_1), Tema Gunadarma, Teater eL Na'ma, Teater Hijau Lima Satu, Study Teater 24, Teater Alamat, Teater Petra, Teater Gumilar, dan Teater Poros

 

Sementara di Sayap Tamu akan menampilkan empat kelompok teater undangan, yaitu Jaring Project (Yogyakarta), Artery (Jakarta), Padepokan Seni Madura (Madura), Sena Didi Mime Indonesia (Jakarta).  Kemudian Sayap Klasik adalah pentas grup-grup teater tradisional yang hingga kini masih bertahan di Jakarta. Yakni, Lenong Denes Puja Betawi, Sahibul Hikayat Ita Saputra, Wayang Orang Bharata, Sandiwara Sunda Miss Tjitjih.

 

Adapun Sayap Perspektif adalah penampilan dua kelompok di malam pembukaan (kolaborasi seniman) dan penutupan (kelompok MuDa dari Jepang). Pada malam penutupan 9 Desember nanti, selain dibacakan pemenang FTJ 2016, penonton juga akan dihibur dengan penampilan kelompok teater hyper-performance MuDa dari Jepang dengan karya berjudul SEMEGIAIRandom 02.

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU