© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Nikmati Akhir Pekan Bersama Festival Film Jepang 2016

27 Nov 2016

Akhir pekan terakhir di bulan November cukup seru dilalui dengan menikmati perhelatan Japanese Film Festival (JFF). Selama tiga hari bertempatdi Cinemaxx Fx Sudirman, warga DKI Jakarta dan sekitarnya dimanjakan dengan belasan judul film asal negeri Matahari Terbit itu. Penggemar film Jepang di Indonesia cukup banyak. Tak salah bila penyelenggara acara yakin bahwa minat penonton akan besar.

 

Ryo Nakamura, perwakilan dari Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia menyebutkan bahwa ajang JFF 2016 ini sangat bermanfaat untuk mempererat hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang dari sisi kebudayaan. “Semoga dengan menyaksikan film Jepang, masyarakat bisa mengenal lebih baik lagi kebudayaan Jepang dan bagaimana Jepang di masa lalu dan masa kini,” kata Nakamura.

 

 

Pemeran Taichi dalam Chihayafuru, Shuhei Nomura dan sutradara Norihiro Koizumi turut hadir pada acara pembukaan ditemani Chelsea Islan sebagai duta JFF 2016. Shuhei Nomura mengaku rela datang ke Indonesia agar masyarakat bisa lebih tahu mengenai budaya Negeri Sakura. Menurutnya, dua film Chihayafuru, Chihayafuru Part.1 dan Chihayafuru Part.2, yang ditayangkan dalam JFF 2016 memuat cukup banyak adegan yang memamerkan kebudayaan Jepang lama dan baru.

 

“Semoga Anda semua bisa menikmati Chihayafuru dan bisa lebih suka dengan Jepang,” ujarnya.

 

Sementara itu, sutradara Koizumi bercerita, sebenarnya ia tidak sengaja memasukkan banyak elemen kebudayaan Jepang yang lama dan yang baru dalam kedua filmnya. Menurutnya permainan kartu tradisional Jepang yang menjadi latar film, karuta bisa memperkenalkan kebudayaan negaranya secara keseluruhan.

 

“Film ini di samping menggambarkan budaya Jepang lewat karuta, saya rasa menggambarkan bagaimana anak muda Jepang yang tengah tergila-gila atau sangat asyik bermain sesuatu. Menurut saya itu sesuatu yang khas Jepang sekali,” katanya.

 

Selain itu, imbuhnya, Chihayafuru juga menjadi ajang pameran bakat-bakat masa depan Jepang mengingat banyaknya aktor muda populer yang terlibat dalam film ini.

 

Norihiro menjelaskan, Jepang merupakan negara kepulauan, sehingga biasanya para sutradara film memproduksi film untuk ditayangkan di dalam negerinya sendiri. Namun, sebagai sutradara, ia tak memungkiri bahwa selalu ada rasa penasaran apakah konten yang dibuatnya bisa juga dinikmati oleh masyarakat di seluruh dunia.

 

“Maka dalam kesempatan ini saya sangat senang karena film Jepang ditonton oleh masyakat dunia. Produksi film di Jepang juga semakin berkembang dan disesuaikan supaya bisa dinikmati masyarakat dunia,” katanya.

 

Selain Chihayafuru Part.1 dan Chihayafuru Part. 2, terdapat 12 film lain yang ditayangkan dalam JFF 2016, yakni Sweet Bean, Creepy, Kako: My Sullen Past, Over The Fence, Rudolf the Black Cat, Sanada Ten Braves, The Anthem of the Heart, The Boy and the Beast, The Magnificent Nine, The Mohican Comes Home, What a Wonderful Family!, dan Tsukiki Wonderland.

 

 Tak hanya di Ibu Kota, festival ini juga bakal hadir di Yogyakarta pada 28 November hingga 3 Desember 2016. Dalam penyelenggaraan di Kota Gudeg, Japan Foundation berkolaborasi dengan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Enam film akan ditayangkan dalam kesempatan itu.

 

JFF merupakan sebuah platform film Jepang yang bertujuan meningkatkan minat terhadap film Jepang dan menarik penonton yang luas di negara-negara Asia Tenggara. JFF Indonesia pertama kali diselenggarakan pada 2015 oleh Agency for Cultural Affairs of Japan bekerja sama dengan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Japan Foundation, dan Japan Image Council. Mulai tahun ini, JFF Indonesia akan tergabung dalam JFF Asia Pacific Gateway yang diinisiasi oleh Japan Foundation dan diselenggarakan di 10 negara Asia Tenggara dan Australia.

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU