© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Ark 22, Wujud Arsitektur dan Cerminan Peradaban Maroko

21 Dec 2016

 Pekan lalu selama dua minggu berturut-turut kota Marrakech di Maroko menjadi sorotan dunia. Kota yang dikenal dengan eksotisme bangunan dan budayanya ini menjadi tuan rumah penyelenggaraan konferensi perubahan iklim (COP22). Konfrensi ini menjadi lanjutan hajatan serupa yang digelar tahun lalu di Paris, Perancis.

 

Lebih dari 100 negara termasuk Indonesia hadir di sana untuk membicarakan masa depan suhu bumi, lingkungan, dan iklim di Bumi. Sebagai tuan rumah, Marrakech dan pemerintah kerajaan Maroko tentu ingin menyambut semua tamu yang datang dengan gaya mereka yang berbeda dibanding penyelenggaraan sebelumnya.

 

Dan benar saja, salah satu sambutan berbeda itu terwujud ketika Anda tiba di lokasi penyelenggaraan. Di kawasan Bab Ighli, sebuah bangunan megah langsung menarik mata. Namanya Ark22. Ia ditempatkan tepat di depan pintu masuk delegasi dan pimpinan negara yang hadir.

 

Apa sebenarnya Ark22? Nama itu diambil sesuai dengan nama penyelenggaraan acara, COP22. Ark22 bisa dibilang sebuah maha karya seni sekaligus karya arsitektur. Pembuatnya adalah kelompok arsitek Qualolou+Choi dan bekerjasama dengan arsitek Stephane Malka. Ark22 bewarna cokelat muda senada dengan warna gurun pasir. Sebuah tempat yang tak asing bagi masyarakat Maroko.

 

 Ark22 sengaja diletakkan di sana sebagai monumen yang menjadi batas antara wilayah gurun dan kota. Warna dasarnya cokelat mengingatkan Maroko sebagai negara yang lekat dengan padang pasir. Bahan dasar pembuatan Arc22 adalah kayu bekas yang didesain sedemikian rupa agar dapat dimanfaatkan kembali.

 

“Ini sesuai dengan warna COP22 dimana isu keberlanjutan dan kelestarian lingkungan jadi tema utama yang dibicarakan,” kata Stephane Malka dalam keterangan persnya.

 

Jika dilihat lebih dekat, konsep membangun monumen Ark22 terbilang unik. Desainernya memilih metode tumpukan balok yang menghasilkan celah-celah kecil. Celah inilah yang menjadi pintu masuk sirkulasi udara secara alami.

 

 Konsep ini merupakan cara lama yang sudah dikenal oleh arsitek dunia untuk mengurangi penggunaan listrik sebagai pendingin udara. Setelah acara COP22 selesai, bangunan Ark22 akan dibongkar. Sebagian bahan bakunya akan dibuat bangunan baru di salah satu ruang publik kota Marrakech. Sementara sisanya akan diberikan pada pengrajin kayu lokal.

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU