© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Tentang Penyair yang Hilang Lalu Lahir Kembali dalam Sebuah Film

25 Jan 2017

Puisi Kemerdekaan

Kemerdekaan adalah nasi

Dimakan jadi tai

 

Itulah penggalan puisi apik karya Wiji Thukul, seorang penyair dan aktivis demokrasi yang pernah hidup di bawah rezim Orde Baru. Thukul bukanlah sosok berbadan tegap. Dia juga pasti enggan disebut pahlawan. Namun rasanya tidak berlebihan bila menyebutnya sebagai ksatria pemberani. Ia bersenjatakan mulut dan syair, senjata yang akhirnya melenyapkan Thukul tanpa kabar.

 

Wiji Thukul hilang entah kemana. Dia dikabarkan menjadi satu dari belasan aktivis demokrasi yang diculik tanpa jejak sedikit pun. Generasi milenial yang lahir pada era tahun 2000an mungkin jarang mendengar sosok ini. Ya, Thukul memang tak populer di kalangan anak muda namun tanpa perannya, kita mungkin akan sulit menikmati masa demokrasi seperti sekarang.

 

 

Itulah yang mendasari niat seorang sineas bernama Yosep Anggi Noen ketika menggarap film bertajuk, Istirahatlah Kata-Kata. Film itu kin tayang di bioskop dan menjaring penonton yang ingin tahu kisah perjuangan Thukul. Anggi sendiri ingin generasi muda tak lupa akan sejarah, merasakan perjuangan Thukul, sekaligus mendorong pihak berwajib untuk menyelesaikan kasus ini.

 

“Demokrasi dan kemerdekaan yang kita rasakan sekarang ini enggak datang tiba-tiba, melainkan penuh pengorbanan, penuh kehilangan,” kata Anggi.

 

Film ini dibintangi oleh Gunawan Muryanto sebagai Wiji Thukul dan Marrisa Anita sebagai Sipon, istri Wiji Thukul. Ini adalah suguhan menarik bagi generasi milenial khususnya mereka yang belum atau tidak mengenal sejarah negaranya sendiri.

 

 

Kisah Wiji Thukul memang menarik. Ia pandai menulis meski pendidikannya cuma sampai kelas dua sekolah menengah karawitan karena tak sanggup bayar sekolah. Dia hidup dalam keadaan yang serba sulit. Dia pernah mengamen puisi, berjualan koran, menjadi calo tiket bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah usaha mebel.

 

Meski hidup melarat Thukul tak lantas menyerah pada nasib dan sistem sosial yang menindasnya. Sejarah tak selamanya membosankan. Ia bisa dinikmati dan dipelajari melalui karya film seperti ini. Istirahatlah Kata-Kata mampu membuat penonton dari kalangan generasi muda terpicu melakukan gerakan positif untuk membela hak asasi manusia. Istirahatlah Kata-Kata dapat membantu kita ‘menemukan’ Wiji Thukul kembali dan menempatkannya pada alur sejarah Indonesia.

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU