© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Refleksi AR Soedarto tentang Dunia yang Deskonstruktif

10 Feb 2017

Gonjing Miring, istilah itu berasal dari bahasa Jawa dan sering dipakai sebagai judul sebuah gending Jawa, genre gending Tayuban. Istilah aslinya Kijing Miring yang berarti nisan miring. Terminologi kijing diganti menjadi Gonjing oleh seniman senior, AR Soedarto ketika mengadakan pameran tunggalnya di Galeri Nasional, Jakarta dengan tajuk Gonjing Miring.

 

Menurut kurator pameran Puguh Tjahjono Sadari Warudju, Gonjing Miring merupakan sebuah kata majemuk yang masing-masing saling meneguhkan pemaknaan kesatuannya. Gonjing dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai konstruksi yang instabil atau terlepas dari stabilitasnya atau juga inharmoni.

 

Sedangkan miring adalah konstruksi gerak diagonal dalam bahasa visual. Ia bisa diartikan sebagai fenomena instabilitas, gejala tidak stabil bahkan keruntuhan. Maka kata Gonjing Miring diartikan untuk mewakili suatu kondisi anomali, gejala-gejala penyimpangan, deskonstrukstif, atau bahkan chaos.   

 

Sementara itu seni Tayub (Tayuban) adalah seni tari tradisional yang berkembang sebagai bentuk ‘perlawanan’ (ekspresi kritik) terhadap hegemoni nilai dari sentral (keraton). Diasumsikan sebagai sebuah dekonstruksi tari-tari tradisional produk keraton (pusat nilai).  Tayub berkembang di masyarakat pesisiran. Kerap kali dalam bentuk koreografinya mengandung unsur sinikal dan karikatural, demikian juga pada ritme gendingnya yang menggiring pada gerak-gerak tubuh yang jenaka.

 

Tak luput juga pada syair-syair yang dilagukan dalam gending. Gending Kijing Miring juga menggambarkan pesan tentang situasi mental yang galau, terbentur pada absurdnya sistem pemahaman personal, seakan kesadaran akan batas hiduppun menjadi tidak tegak lagi (diabaikan).  

 

AR. Soedarto menangkap istilah Gonjing Miring secara unik. Di usianya yang sudah di atas 60–an, ketajaman intuisi Ar. Soedarto selaku seniman yang hidup dalam perputaran nilai-nilai yang berkelindan dengan ritme dinamik, bahkan melintasi paling tidak tiga periode penandaan jaman, sangatlah wajar bila kian matang dalam menjaring segala pergerakan nilai tersebut. 

 

 

Merebaknya era komunikasi digital sangat mencuatkan taferil sosial menjadi semakin bertekstur secara masif, perubahan atau friksi sosial bergerak secara dinamik, terbuka dan problematik. Ada hal yang positif tetapi juga tak kalah pentingnya untuk mewaspadai ekses negatifnya. Persaingan personal di berbagai lini kehidupan, bergeraknya nilai-nilai komoditi konsumtif, mendorong pendulum hidup sosial cenderung ke arah sekulerisasi.

 

Sementara pada akses religiusitas mengalami adistorsi dan konflik secara fragmentarian. Perang pengaruh dan juga kelindannya eksotika politik dalam perebutan peran publik menjadi hingar bingar seakan tidak tersisa ruang  jeda untuk sekedar kontemplasi dan mengembalikan hakikat realitas sosial yang selaras dan harmoni, seimbang dalam komposisi yang proporsional. 

 

Situasi semacam itulah yang tertangkap Ar.Soedarto dalam ungkapan Gonjing Miring. Untuk menyaksikan dan merasakan Gonjing Miring yang dimaksud, Galeri Nasional Indonesia bekerja sama dengan Ar. Soedarto Studio menyajikan sekitar 25 lukisan karya Ar. Soedarto mulai 4 hingga 16 Februari 2017.

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU