© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Mainan Tradisional, Nostalgia Masa Kecil yang Menyenangkan

3 Mar 2017

Endi Agus Riyono atau yang lebih dikenal sebagai Endi Aras. Baginya kenangan masa kecil mungkin terlalu berharga bila dilupakan. Terutama momentum masa kanak-kanak yang penuh keceriaan dengan beragam permainan, bukan gadget bukan pula konsol game namun permainan tradisional. Itulah mengapa ia rela bergerilya dari satu daerah ke daerah lain selama 11 tahun untuk satu tujuan, melestarikan permainan tradisional.

 

Hasil jerih payahnya tak sia-sia. DIa pun berminat untuk berbagi pengalaman pada orang lain melalui sebuah pameran dengan tajuk Menyelami Kegairahan Masa Kecil di Bentara Budaya Jakarta. Mereka mengundang Gudang Dolanan Indonesia untuk mengajak masyarakat pada ingatan tentang beragam permainan anak nusantara yang kini mulai terpinggirkan.

 

 

Pameran yang berlangsung pada 22-28 Februari 2017 itu menampilkan sekitar 400 alat permainan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya congklak, kelereng, ketapel, bekel, yoyo dan gasing. Untuk gasing sendiri, jumlahnya berkisar 100 buah, dengan beragam rupa yang mewakili daerah asalnya.

 

Bagi Endi, sang pelopor, upaya untuk melestarikan dolanan bocah khas Nusantara berangkat dari keprihatinannya melihat permainan tradisional yang kian terlupakan dan ditinggalkan. Ia menuturkan, saat ini anak-anak lebih nyaman berlama-lama menatap layar gawai atau bermain dengan mainan modern buatan pabrik.

 

 

Padahal, di balik kesederhanaannya, permainan tradisional mengajarkan berbagai nilai yang penting bagi perkembangan karakter anak, di antaranya kejujuran, sportivitas, kebersamaan, dan taat pada aturan. Permainan tradisional juga melibatkan aktivitas fisik, mengasah keterampilan serta mengembangkan kreativitas.

 

“Sayang kalau permainan tradisional lama-lama ditinggalkan. Karena kepunahan permainan tradisional ini juga berarti kepunahan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” kata Endi.

 

 

Endi mengatakan, perhelatan ini bertujuan untuk mengenalkan kembali permainan tradisional Indonesia di kalangan anak-anak melalui orangtuanya. “Kami memperkenalkan kembali permainan tradisional Indonesia ke anak-anak dan ke orang tua. Karena dari orangtua itu akan merambat ke anaknya,” ujarnya.

 

Selain pameran, digelar pula berbagai pelatihan membuat mainan tradisional dan beragam lomba permainan anak, seperti egrang bambu, adu gasing, bakiak, lompat karet, dan kelereng. Malam harinya, terdapat panggung kesenian yang diramaikan oleh berbagai komunitas seni dan perwakilan dari sekolah-sekolah.

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU