© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Jejak Retno Maruti dalam Bingkai Foto dan Panggung Tarian

14 Mar 2017

Retno Maruti, sosok penari Jawa klasik yang tak pernah lelah berhenti berkarya. Sudah banyak panggung ia datang sejak pertama kali menelurkan karya Damarwulan pada 1968 hingga yang terakhir Kidung Dandaka tahun 2016 lalu. Karya-karya yang dihasilkan Retno Maruti bukan sekadar 'mementaskan' sebuah kisah Jawa Klasik, namun memberikan nilai interpretasi tertentu yang menunjukkan sikap dan pandangan estetikanya selama ini. 

 

Selama puluhan tahun ia menari, suguhan cerita pertunjukannya kini kembali diulas melalui ratusan frame foto dari 10 fotografer yang diambil ketika Retno menari. Poster-poster pertunjukan terpilih, tulisan tangan, hingga memorabilia sang maestro tari berupa kostum pentas yang diciptanya kini disajikan dalam pameran bertajuk Lakon Jawa dalam Koreografi Retno Maruti di Bentara Budaya Jakarta.

 

 

Foto karya Danny Tumbelaka, misalnya, terpampang saat ia memotret Retno mementaskan Abimanyu Gugur. Fotografer senior Arbain Rambey juga ikut tampil dengan karyanya saat memotret pentas Klono Sembung Langu. Fotografer lain yang karyanya ikut dipamerkan adalah Rizanto Binol, Pradya Paramitha, Sherly Novia, Fabianus Hiapianto K, Ali Maksum, Tian Reffina, Arbain Rambey, Faizal Ahmad, dan Dyan Indriyani.

 

Mmenurut Retno, puluhan tahun berkecimpung dan konsisten dengan seni tari dan berbagai pementasan membawa istri Sentot Sudiharto ini mengaku keberadaan pentas tak semata demi sebuah acara, melainkan telah menyatu sebagai jiwa dalam dirinya. "Kami berlatih (tari) untuk melengkapi dan menyeimbangkan kehidupan," katanya.

 

Tak hanya pameran foto, aksesori kepala atau populer disebut irah-irah juga dipamerkan dalam etalase kaca berdekatan dengan elemen pendukung pentas, semisal naskah panggung hingga kostum yang pernah dipakai. Pameran ini juga berbarengan dengan ulang tahun Sanggar Padneçwara yang ke-41.

 

Padnecwara tidak bisa dilepaskan dari sosok Retno Maruti sebagai tokoh yang 'melahirkan'-nya, yang pada 2017 ini genap berusia 70 tahun. Padnecwara akan mementaskan lakon Arka Suta ini dalam sebuah opera tari Jawa. Pada pementasan kali ini akan menghadirkan para penari dari Surakarta dan Jakarta yang akan memerankan tokoh-tokoh utamanya. Mereka adalah Wasi Bantolo, Retno Maruti, Ali Marsudi, Fajar Satriadi, Nungki Kusumastuti, Yuni Swandiati, Mahesani Tunjung Setia, Hany Herlina dan para penari Padnecwara.

 

 

Nanang Hape bertindak sebagai penulis naskah, sedangkan penata artistik ditangani Sentot S, penata gending atau tembang oleh Blacius Subono. Penata Cahaya dan penata suara dipercayakan kepada Sonny Sumarsono dan Bayu Wicaksono. Arka Suta yang berarti anak matahari ini akan mengisahkan tentang sosok Adipati Karna.

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU