© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

77 Tahun Sapardi Djoko Damono

23 Mar 2017

 

Saya tak sanggup membayangkan hal luar biasa apa yang dapat dilakukan, apabila umur saya hampir 80 tahun? Untuk berjalan saja, mungkin sukar. Namun bagi Sapardi Djoko Damono, pertambahan usia bukanlah penghalang dalam beraktivitas dan berkarya. Sapardi adalah salah satu penyair terkenal Indonesia. “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”, adalah sebait gubahannya yang sering jadi favorit untuk dikutip dan kemudian lalu lalang di linimasa media sosial.

 

Dua hari setelah ulang tahunnya yang ke-77, 7 buku karya Sapardi Djoko Damono dirilis sekaligus, pada Rabu Malam (22/3). Enam buku berupa kumpulan puisi, yaitu ”Ayat-ayat Api”, “Duka-Mu Abadi”, “Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?”, “Kolam”, dan “Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita”. Sementara satu judul lagi “Pingkan Melipat Jarak”, adalah novel kedua, lanjutan dari Trilogi Hujan Bulan Juni. 

 

 

Bentara Budaya Gramedia, Jakarta, dipadati ratusan orang yang ikut merayakan ulang tahun Sapardi, juga Hari Puisi Sedunia yang jatuh pada 21 Maret. Dalam sambutannya, Sapardi memberikan apresiasi kepada sejumlah nama yang telah memusikalisasi sajaknya, sehingga menjadi populer. Ia merasa jika bukan lewat lagu, tak banyak orang bisa mengenal puisinya.

 

 

Sastrawan Goenawan Muhammad, penyair Joko Pinurbo, penulis buku Iwan Setyawan, mantan presenter berita Tina Talisa, juga beberapa nama lain mengisi acara dengan menyajikan puisi-puisi Sapardi pilihan mereka. “Saya selalu menantikan acara-acara bergaya seperti ini di Jakarta. Saya pikir Jakarta butuh acara budaya seperti ini, agar Jakarta penuh cinta”, kata Iwan yang memilih membawakan karya berjudul “New York, 1971”. Sementara Tatyana Soebianto dan Muhammad Umar Muslim, menghibur penonton dengan musikalisasi puisi.

 

 

 

Dalam acara ini juga sempat mengulas tentang rencana pembuatan film Hujan Bulan Juni yang merupakan salah satu karya Sapardi paling terkenal. Sapardi mengaku tidak banyak ikut terlibat dalam film yang diangkat dari novelnya itu. "Saya terlibat hanya saat menerima uang. Itu saja," ucap Sapardi yang disambut tawa pengunjung yang hadir.

 

 

Acara ditutup dengan penandatanganan buku. Melihat maestro puisi tersebut melayani antrean yang mengular dengan tenang, membuat saya kagum. Menjadi pas dengan perkataan Goenawan Muhammad ketika membuka acara, “Sapardi Djoko Damono tidak berulang tahun, tapi dia dilahirkan kembali”. Selamat ulang tahun Pak Sapardi, selamat Hari Puisi Sedunia.

 

 

 

 

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU