© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Merefleksikan Semangat Juang RA Kartini dalam Bingkai Foto

27 Mar 2017

Siapa yang tak mengenal sosok Raden Ajeng Kartini. Sampai saat ini dia masih menjadi figur penting bagi Indonesia khususnya kaum perempuan. Gagasannya soal emansipasi dan pendidikan perempuan membuat semangat Kartini seolah masih hidup dan dapat dirasakan hingga sekarang.

 

Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dilahirkan dari lingkungan bangsawan di Jepara, Jawa Tengah, pada era kekuasaan kolonial Belanda. Di luar kelaziman pada masa itu, ayahnya mengizinkan Kartini untuk mendapatkan pendidikan formal di sekolah Belanda yang dikhususkan bagi orang Eropa dan anak laki-laki keluarga bangsawan Jawa.

 

 

Kesempatan itu membuat Kartini menjadi salah satu perempuan pribumi yang bisa bersekolah dan mendapatkan pendidikan Eropa di masa itu. Sayangnya karena budaya masyarakat Jawa di masa itu, Kartini harus berhenti sekolah pada usia 12 tahun. Pada usia 24 tahun, Kartini menikahi lelaki bangsawan yang usianya dua kali lebih tua dibanding Kartini dan sudah memiliki tiga istri.

 

Buah dari pendidikan yang ia alami hingga usia 12 tahun membuat Kartini sering menulis surat dalam Bahasa Belanda kepada para sahabat penanya di Belanda dan menyuarakan pertanyaan, gugatan, dan pemberontakan terhadap ketidakadilan masyarakat pribumi di Jawa, termasuk dalam hal poligami perkawinan dan kesetaraan pendidikan bagi perempuan pribumi.

 

Pada usia 25 tahun Kartini tutup usia, ketika melahirkan anak laki-laki pertamanya pada 17 September 1904. Namun ia sempat mewujudkan mimpinya untuk mendirikan sekolah untuk anak perempuan pribumi. Semangat dan perjuangan itulah yang ingin dikenang dalam sebuah pameran foto bertajuk, Jejak Langkah Seorang Raden Ajeng: Reflections on RA Kartini di Erasmus Huis, Jakarta.

 

Dalam pameran ini, Koninklijk Instituut voor Taal en Volkenkunde (KITLV) atau institusi lembaga kajian Belanda untuk Asia Tengara, menghibahkan 75 file koleksi foto Kartini milik Perpustakaan Universitas Leiden dan buku Kartini karya Joost j Cote d ke Museum Kartini di Jepara sebagai koleksi baru. Pameran itu dibuka hingga 31 Maret mendatang sebagai bagian dari peringatan hari Kartini tiap tanggal 21 April.

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU