© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Karya Seni Cadas Sepuluh Perupa Nusantara

23 May 2017

Farhan Siki adalah salah satu seniman yang berpartisipasi dalam pameran bersama, Gambar Cadas Indonesia: Wimba Kala di Galeri Nasional Indonesia. Dari tangannya, tercipta gambar cadas dari lukisan gua berjejer dengan unsur kekinian yang tak kalah unik; kartu kredit. Perupa asal Yogyakarta itu menciptakan simbol dari hewan purba dan cap-cap tangan seperti lukisan gua dengan judul Luncheon.


“Tapi di ujung cap tangan itu ada kartu kredit yang bisa dibilang jadi lebih kekinian. Jadi kan lucu, cap tangan ada yang pegang kartu kredit,” tutur Farhan.

 

Sebelum menggarap karya 'Luncheon', Farhan Siki terlebih dahulu mengunjungi kawasan Muna, Sulawesi Selatan. Selama tiga hari dia melihat langsung lukisan gua yang ada di dalam gua. “Cap-cap tangan saya bisa lihat langsung dan seperti apa bentuknya. Dari situ saya aplikasikan ke karya seni,” lanjut Farhan Siki. 


Farhan Siki tak hanya dikenal di dunia seni rupa, tapi juga street artist. Pada Maret-September 2016 lalu, dia menggelar pameran tunggal kedua yang bertajuk 'Trace' di Headquarter of Banca Generali Private Banking, Milan, Italia. Pada pameran Wimba Kala ini, dia bukanlah satu-satunya seniman yang ikut. Ada 10 perupa yang terlibat di dalamnya.

 

Mereka adalah Achmad Krisgatha, Achmad Sopandi Hasan (1958-2015), Andang Iskandar, Eldwin Pradipta, Farhan Siki, Irman Anas Rahman, Panca D.Z & ARTi, R.Basoeki Abdullah (1915 - 1993), Ricky 'Babay' Janitra, dan S.Dwi Stya 'Acong'. Sebanyak 10 karya yang terkait gambar-gambar cadas seperti lukisan, seni instalasi, video art, fotografi, maupun mural dipamerkan.

Menurut Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud, Hilmar Farid, pameran Gambar Cadas Indonesia Wimba Kala ini mempertemukan kembali pada lukisan bentuk paling purba itu dan gambar-gambar cadas lain dari gua-gua prasejarah di Nusantara. “Kita diajak berhadap muka dengan sejarah kesenian Nusantara paling tua, sejarah usaha manusia mengolah bentuk artistik berdasarkan kenyataan lingkungan sekitarnya,” terang Hilmar. 


Karya-karya yang ditampilkan dalam Wimba Kala merupakan hasil olah artistik delapan perupa masa kini. Karya tersebut disandingkan dengan dua karya lukis para seniman ternama yang dianggap relevan dengan gambar cadas. Diantaranya karya Achmad Sopandi Hasan (1958 – 2015) yang merupakan koleksi Galeri Nasional Indonesia, serta karya R. Basoeki Abdullah (1915 – 1993) sebagai koleksi dari Museum Basoeki Abdullah.
 

“Penggabungan antara karya-karya masa kini dan masa lalu seni rupa Indonesia ini kami harapkan bisa memberikan dan memperluas pengetahuan publik, khususnya kalangan dunia pendidikan tentang sejarah,” tutur Kepala Galeri Nasional, Tubagus 'Andre' Sukmana. 

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU