© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Membingkai Masa Depan dari Tangan 15 Seniman Muda

26 May 2017

Bey Shouqi, Dhanny Sanjaya, Edita Atmaja, Faisal Rahman Ursalim, Fransisca Retno, Gadis Fitriana, Grace Joetama, Ivan Christianto, Monica Hapsari, Ratu Saraswati, Rianti Gautama, Sarita Ibnoe, Wangsit Firmantika dan Yaya Sung. Nama-nama mereka mungkin masih asing bagi Anda namun karya mereka bisa dinikmati di Galeri Nasional, Jakarta hingga 5 Juni mendatang.


Ke-15 orang itu merupakan seniman muda yang telah melalui proses panjang program EXI(S)T, sebuah wadah inkubasi anak muda Jakarta untuk mengembangkan berbagai potensi artistik, dimana dialog kritis antara partisipan dan mentor serta kurator menjadi proses utama. Berbeda dengan program-program yang sudah ada, EXI(S)T ditujukan bagi mereka yang sudah bukan lagi mahasiswa dan masih baru ‘terjun’ di berbagai bidang di industri kreatif, yang juga ingin membuat karya seni.

Pertama kali diinisiasi oleh Hermawan Tanzil dan FX. Harsono pada tahun 2011 yang mengajak mereka untuk ‘keluar’ (to exit) dari jalur-jalur yang sudah mereka jalani untuk ‘ada’ atau ‘hadir’ (to exist) di peta seni rupa Indonesia, khususnya Jakarta. Setelah 5 tahun berturut-turut mengadakan program mentoring, kini EXI(S)T 2017 mengundang lima belas seniman muda Jakarta yang sebelumnya telah berpartisipasi dalam program ini untuk menampilkan karya terbarunya bersama-sama. 


Tomorrow As We Know It jadi tema utama yang dipilih. Kurator pameran, Evelyn Huang mengatakan kelimabelas seniman yang diundang dapat merepresentasikan generasi muda scene seni rupa Jakarta yang makin beragam. “Setiap tahun program ini merespons tema spesifik, terakhir kemaritiman. Pada 2017 dirancang untuk mengundang seniman berpikir lebih jauh, memprediksi dan meramal masa depan,” ujar Evelyn.

Seniman yang mengikuti program pengembangan EXI(S)T 2017 itu, kata Evelyn, diminta melihat yang ada depan mata atau pandangan yang membentang di akhir zaman. Hal yang menarik dari pameran itu, menurut dia, adalah keunikan masing-masing seniman membingkai waktu tertentu di masa depan dengan sudut pandang sebagai generasi muda.


Evelyn mencontohkan, seniman muda Kara Andarini menampilkan karya berupa gambar yang menunjukkan padatnya waktu di Jakarta dan warganya harus selalu berkejar-kejaran dengan waktu. “Di tengah kota dengan pembangunan masif, Kara ingin mengekspresikan bagaimana berkejaran melalui gambar,” tutur Evelyn.

Ada pun selain gambar, disajikan juga instalasi dengan isu spiritual, gender, sains dan realitas dunia maya. Dengan pameran itu, diharapkan para seniman muda dapat menegaskan keberadaannya dalam lanskap seni rupa Indonesia. 

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU