© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Art Brut Indonesia, Dari Mereka yang Terpinggirkan

28 May 2017

Datang ke Plaza Gedung A Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan membuat Anda terpanga. Di sana terdapat karya-karya seni rupa yang dipamerkan dalam pameran bertajuk Merintis Jejaring Art Brut Indonesia. Terasa sangat spesial karena karya-karya tersebut merupakan ekspresi dari anak-anak dan orang dewasa yang berkebutuhan khusus, disabilitas mental. Hana Madness, Dwi Putro, Gary Harlan, Kezia Sibuea, Ezra Hafiz D, Emilio Cornain, Anfield Wibowo, Ramadhika Asra, dan Caliandra Alex adalah nama-nama spesial itu.


Lukisan Anfield Wibowo menampilkan karya tentang bunga, sosok gadis. Sedangkan Dwi Putro, dengan warna-warna terang cerah tetap dengan lukisan khasnya yakni figur tokoh wayang kulit. Caliandra juga dengan warna cerah menggoreskan cat dengan lukisan seperti wayang dan es krim. Atau Ezra dengan lukisan figure binatang. Demikian pula dengan lukisan obyek bangunan di kota yang padat dengan detail kotak dan warna cerah milik Ramadhika Asra.

Hana Madness memamerkan karya-karya lukisan dengan obyek unik yang repetitif dengan warna hitam putih dan beragam warna yang indah. Terlihat sangat rapi dan memperlihatkan ketelatenan akan detail pada obyek. Pengunjung juga dapat melihat sketsa-sketsa karya Kezia dan Gary Harlan. Emilio memadukan warna-warna terang dengan gaya abstraknya.


Lukisan-lukisan ini memperlihatkan energi, potensi dan bakat para penyandang disabilitas. Karya mereka memperlihatkan apa yang mereka rasakan, lihat, inginkan. Selain sebagai terapi tetapi karya ini memperlihatkan bakat, identitas atau prestasi yang memberi semangat. Seperti yang dikatakan oleh Hana Madness yang mengalami bipolar. Melukis bagi Hana untuk terapi atas depresi atau halusinasi hebat yang dialaminya. Lukisannya mencerminkan keadaannya. 

“Tetapi kemudian ketika karya saya diapresiasi saya senang dan bersyukur. Itu seperti dopping buat saya. Jadi semangat,” ujarnya di sela-sela diskusi,di Plaza Gedung A kemarin. Pada diskusi itu hadir pula psikiater Nova Riyanti Yusuf, kurator seni Sujud Dartanto dan budayawan Taufik Rahzen.


Nawa Tunggal, salah satu penggagas pameran mengatakan pameran ini bertujuan untuk mewadahi ekspresi seni rupa bagi penyandang disabilitas mental. “Wujudnya bisa menjadi sebuah festival, biennale atau pasar seni. Harapannya bisa berkembang di kota lain,” ujarnya. Dia juga mengatakan pameran ini juga menampilkan karya-karya yang menyamai karya mainstream modern yang abstrak atau figuratif. 

Please reload

Seek-a-seek #2 Merespon Tantangan di Dunia Desain Grafis

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU