© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Belajar dari Maestro Lukis Sketsa Pak Djon

14 Jun 2017

Seniman senior dan maestro lukis Indonesia, S. Sudjojono atau yang biasa disapa Pak Djon memamerkan lukisan sketsa di Bentara Budaya Jakarta dengan tajuk Hidup Mengalun Dendang. Momen itu sekaligus sebagai ajang peluncuran buku serta memorabilia Pak Djon. Sebagai pelukis, Pak Djon memiliki penilian akan arti penting sketsa.

Ia menilai melalui sketsa dapat melihat apakah seseorang itu pelukis besar yang mampu melukis dengan dasar teknik yang baik atau tidak. Karena itu sepanjang hidupnya Pak Djon membuat banyak sekali sketsa yang bukan sekedar gambar orar-oret. Tapi menyerupai catatan harian, catatan sejarah mengenai segala sesuatu yang dilihatnya dan dialaminya.

Dalam pameran ini akan ditampilkan 130 sketsa, 4 repro lukisan, serta 3 lukisan asli karya Pak Djon. Serta pameran ini akan didukung dengan adanya sejumlah memorabilia. “Pak Sudjojono adalah sosok yang multitalenta, multi-bakat, dan multi-dimensi. Tidak hanya seorang sketsais, pelukis, pematung, tapi menuliskan semua pikirannya ke dalam tulisan, yang jarang dilakukan seorang pelukis pada zamannya,” kenang Kurator Bentara Budaya Ipong Purnama Sidhi.

Pak Djon, kata dia, di awal sebagai realis dalam karyanya. Tapi menjadi seorang ekspresionis di akhir-akhir dia berkarya di dunia senirupa. Ia pun menyebutkan satu karya luar biasa Pak Djon adalah Pertempuran antara Sultan Agung dan Jan Pieterzoon Coen yang dipesan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, dan mulai dikerjakan tahun 1973.

Lukisan yang tingginya 3 meter dan lebarnya 10 meter itu menjadi bukti sejarah di museum sejarah Fatahillah. Untuk menghasilkan karya Pertempuran antara Sultan Agung dan Jan Pieterzoon Coen, Pak Djon melakukan riset terlebih dahulu ke negeri Belanda. “Itu meriset kostum Sultan Agung, seragam atau baju-baju tentara. Semua dilakukan riset yang tidak main-main dan itu butuh waktu 3 bulan,” jelasnya.

Lukisan itu sendiri digarap dalam waktu 8 bulan. "Menggunakan kanvas yang khusus dibeli di Belgia, zat dan kuas langsung dibeli di Belanda, dan dilakukan sendiri oleh pak Djon," ujarnya. 

Semasa hidupnya, sebagai seniman maestro lukis Indonesia Pak Djon memiliki sejumlah prinsip hidup yang terus dipegangnya. Kejujuran adalah salah satu prinsip yang terus dipraktikkan Sudjojono dalam berkarya. Ia selalu menekankan kepada seniman untuk selalu jujur. Buat Pak Djon, seniman itu tidak boleh berpura-pura dalam menciptakan karya. “Sebab kalau pura-pura hasilnya akan artifisial,” ujarnya.

Ipong menuturkan, selama hidupnya Sudjojono tidak hanya piawai melukis. Namun Bapak Seni Rupa Modern Indonesia itu juga mehir menulis dan membuat patung hingga pemikir. “Nampaknya beliau ini jadi panutan seniman selanjutnya,” ujarnya. Saat ini sedang berlangsung pameran sketsa-sketsa karya Sudjojono di Bentara Budaya Jakarta. Pameran tersebut menyajikan sketsa-sketsa sang seniman dengan berbagai tema, mulai dari Sultan Agung, Pangeran Diponegoro hingga arsitektur. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU