© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Tarian Simbolik di Atas Papan Seng

14 Jun 2017

Jika tarian yang dilakukan di atas lantai biasa saja membutuhkan kemahiran, apa jadinya bila sebuah tarian dilakukan di atas seng? Tanyalah pada Mohammad Hariyanto. Dosen Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta itu hampir satu jam meliukkan tubuhnya di atas papan seng yang bergelombang.


Panggung Galeri Salihara yang menjadi tempatnya mentas diubah total. Lantai yang tadinya disemen, justru di permukaan penuh dengan seng-seng bergelombang. Material seng sengaja digunakan oleh direktur artistik seniman Hanafi sebagai salah satu elemen dalam tarian Ghulur. Para penonton yang melihat pertunjukannya sengaja diajak turut merasakan apa yang dirasakannya. 

Rasa ngilu, bising, dan gelisah dari adanya seng bergelombang tersebut. Dalam setiap geraknya, ada gerakan yang melompat, merayap, tanpa posisi berdiri, termasuk gerakan yang nampak bergulung-gulung di antara seng tersebut. Kata 'ghulur' sendiri memang berarti 'bergelombang'.


“Dari awal pintu masuk galeri, saya sengaja menghadirkan tak ada batasan antara panggung dan penonton. Kita sama-sama satu rasa, penonton juga bisa menginjak seng-seng dengan bebasnya,” tutur Mohammad Hariyanto di Komunitas Salihara. 


Di ajang Helatari Salihara 2017, nama Mohammad Hariyanto menjadi salah satu koreografer yang mementaskan karyanya bersama empat seniman lain. Pentas tari Ghulur terinspirasi dari keprihatinan Mohammad Hariyanto atas tanah yang retak dan kaitannya dengan hukum gravitasi.

Pertunjukan ini ide awalnya dari kesenian Topeng Ghulur di Desa Larangan, Barma, Sumenep, Madura. “Seng itu saya ibaratkan dengan simbol pembangunan. Saya prihatin bagaimana dulu tanah yang subur, jadi kering, retak dan bergulung-gulung. Ghulur ini sebenarnya tangisan tubuh yang tidak lagi menemukan hakikat tanah,” tutur Mohammad Hariyanto.


Karya ini juga menampilkan bagaimana tubuh seharusnya merasakan dirinya sendiri. Hadirnya properti seng merupakan simbol kehidupan primitif menuju urban. Sebelumnya tari Ghulur pernah ditampilkan di M1 CONTACT Showcase Southeast Asian Choreographer Singpore yang terpilih dari hasil kurasi internasional.


Berkat 'Crossline' (2013), dia mendapatkan hibah seni dari Kelola dalam kategori Karya Inovatif. Di tahun yang sama, Mohammad Hariyanto juga mengikuti kolaborasi koreografer internasional Kaki Seni Art Exchange di Kuala Lumpur, Malaysia. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU