© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Filosofi Mi Instan A la Seniman Vietnam

15 Jun 2017

Seniman asal Vietnam, Thuy Tien Nguyen menciptakan proyek seni instalasi melalui mi instan. Mulai dari parfum bumbu mi instan hingga menanam mie. Thuy Tien Nguyen menceritakan terdapat keterkaitan antara dua negara Indonesia dan Vietnam yang memiliki kesamaan dalam mengonsumsi mi instan.

“Di negara saya, merk Indomie khususnya mie goreng sangat digemari masyarakat. Mie menjadi komoditas bahan makanan pokok bagi kami,” tutur Thuy Tien Nguyen di Galeri Nasional Indonesia di sela-sela pameran bertajuk Mutual Unknown yang digelar Goethe-Institut.  

Dalam riset yang dilakukan Thuy Tien Nguyen, dia menemukan ikatan kawasan melalui keseharian mengonsumsi mi instan. Negara-negara agraris penghasil beras yang mulai bergeser pada konsumsi mi instan sebagai bahan makanan pokok.

“Saya merasa Indonesia dan Vietnam sama-sama mengalami pergerasan soal bahan makanan pokok. Di sini saya membuat instalasi, ada lahan sepanjang setengah ruangan galeri yang akan ditanami mi,” terang Thuy Tien Nguyen.

Lahan tanah tersebut selama dua minggu lamanya akan ditanami mie instan. Dia pun tidak tahu apa yang akan terjadi dengan lahan tersebut. “Karena saya juga sama-sama belajar, audiens juga boleh berbincang dan berinteraksi dengan karya ini,” pungkasnya lagi.

Di salah satu sudut karya seni instalasi Thuy Tien Nguyen terdapat parfum hasil olahan dari bumbu mie instan. Siapa pun boleh mencoba menyemprotkan aroma tersebut ke atas permukaan tubuh.

Tertarik melihat karya seni instalasi Thuy Tien Nguyen? Pameran seni Mutual Unknown berlangsung di Gedung A, Galeri Nasional Indonesia. Pameran seni ini diikuti sembilan seniman muda Asia Tenggara. Pameran ini menggunakan konsep 'studio terbuka' yang mengajak pengunjung berpartisipasi. 

Salah seorang kurator, Henry Tan asal Thailand, mengatakan ide awal Mutual Unknown ini merespons program CuratorsLAB. Dia menceritakan sebenarnya proyek kuratorial untuk men-display pameran ada banyak ragam caranya.

“Proyek ini terbatas waktunya dan kami lebih memilih display atau memajang karya yang berbasis riset seniman. Tujuan Mutual Unknown ini sebagai platform agar kami bisa belajar dan saling belajar bersama pengunjung,” kata dia.

Karya-karya yang disajikan, lanjut Henry Tan, adalah proses berkarya para seniman dan masih berkelanjutan selama dua minggu ke depan. “Audiens bisa melihat studio mereka, bertanya langsung, mungkin berkolaborasi juga, dan memang konsep karya tak langsung jadi, kami sama-sama belajar,” pungkas dia. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU