© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Perubahan Sosial dalam Perspektif Enam Seniman

13 Jul 2017

Aris Darisman, Bonifacius Djoko Santoso, Dodi Hilman, Lambok Hutabarat, Wahyudi Pratama, dan Yulian Ardhi adalah seniman yang tergabung dalam kelompok KILLSKILL. Mereka semua tumbuh sepanjang dekade 1980an hingga 1990an dan mengalami tahap demi tahap perubahan dalam masyarakat.

Teknologi, pergeseran ideologi, interaksi sosial, pemaknaan terhadap spiritualitas hingga pola konsumsi budaya merupakan sebagian besar dari bentuk perubahan itu. Dan, itulah yang coba mereka tuturkan kembali dalam karya seni yang dipamerkan dengan tajuk Quit Riot on Stage di Galeri Nasional, Jakarta. 

Evelyn Huang, salah satu kurator pameran mengatakan, seluruh pengalaman tentang perubahan dijadikan bingkai sejarah generasi transisi. Kemarahan, kegelisahan, praktik kesenian yang dijelajahi sejak proses pendidikan, dan situasi sosial politik di masa akademis dipamerkan dalam berbagai medium dan teknik.

“Pameran ini menjadi penting di tengah seni kontemporer yang didominasi media baru, menggunakan teknik yang dekat dengan manusia. Teknik drawing, kemudian isunya tentang refleksi kemanusiaan, sosial politik, khas '90-an seperti spiritualitas, ideologi dan urbanisasi,” tambah Evelyn.

Kendati enam seniman yang terlibat dan berdomisili di Jakarta dan Bandung ini memiliki perspektif yang saling berbeda, mereka mengaku bahwa kegelisahan dalam memaknai perubahan dunia yang tidak kunjung usai menjadi benang merah dalam pameran kali ini.

Wahyudi Pratama misalnya, memaknai manusia dalam karya lukisannya yang bertema 'Manowar' sebagai representasi dari kegelisahan dan ketakutan yang pada akhirnya justru menimbulkan kesengsaraan bagi manusia lain. Karyanya tersebut terdiri dari empat seri yang diberi judul: Man of Fear, Man of Intentions, Man of Thorns, dan Man of Nothing. 

Lalu ada Bonaficus Djoko Santoso melalui karya berjudul Jarum Keras, menyatakan tengah mempertanyakan bangsanya yang menurut dia mengalami kecanduan ideologi, akibat pergeseran ideologi itu sendiri ditambah perubahan peradaban.

“Saya mengerjakan ini selain sebagai pameran sekaligus sebagai komunikasi dengan lingkungan. Ini saya ibaratkan sebagai mesin untuk memuaskan rasa kecanduan,” katanya.

Sementara Doddy Hilman membaurkan mitos dan bentuk sejarah dalam karyanya. Baginya, persoalan Keindonesiaan tidak kunjung usai karena bentuk sejarah bangsa kerap tergelincir dalam pemitosan.

Enam seniman ini mewadahi diri mereka dalam satu kolektif seni rupa yang awalnya berpameran sebagai wadah 'pelarian' dari pekerjaan rutin sebagai desainer, illustrator, serta pengajar seni rupa dan desain di beberapa kampus di Jakarta.

KILLSKILL yang menjadi nama kelompok mereka, diambil sebagai satire atau glorifikasi akan parodi, ironi, pola pikir, kebiasaan, nafas kultural, dan hidup masyarakat di kota besar yang berjalan terlalu cepat.

Dalam pameran-pameran sebelumnya di Jakarta (Suar Art Space, 2015) dan Bandung (Roemah Seni Sarasvati Gallery, 2016), konsep-konsep karya KILLSKILL menyiratkan napas ideologis, kritik sosial, dan pemberontakan kultural yang tersirat melalui simbol-simbol populer pengalaman pribadi, pandangan, kesukaan simbol, imaji, keresahan serta kegelisahan visi dari tiap anggota. 

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU