© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Muara Refleksi dan Observasi Fotografi Seni Arif Datoem

25 Aug 2017

Apa arti fotografi bagi Anda? Secara substansial fotografi mencurahkan metode sekaligus konstitusi pemikiran dan perasaan ke dalam proses melihat, agar bisa mengalami suatu pemahaman yang mendalam tentang keadaan eksistensi subjeknya. Ini adalah suatu cara pemahaman intuitif melalui pengetahuan, kejujuran, emosi, dan nalar.

Seperti itulah kira-kira pemahamannya menurut Arif Datoem, seorang seniman foto senior yang masih intens melakukan penelitian dan praktik kekaryaan melalui media foto. Di Galeri Nasional, Jakarta, Arif ingin memperlihatkan karyanya lagi melalui pameran seni fotografi bertajuk LuminaSense Envisage.

Sudjud Dartanto, kurator pameran mengatakan melalui pameran ini Arif mengajak pengunjung untuk melihat kehidupan tradisi yang masih hidup pada masyarakat suku Baduy dan Jawa melalui pendekatan intuisi digital.

“Karya fotografi seni Arif Datoem dapat dilihat sebagai fakta bahwa fotografi seni itu ada dan namanya menjadi bagian penting dari sejarah fotografi seni, Arif dapat dikatakan sebagai salah satu fotografer seni senior sebetulnya di Indonesia dan Asia Tenggara,” kata Sudjud.

LuminaSense memiliki arti simbolis sebagai bagian dari alam semesta, bagian dari kehidupan itu sendiri dimana indera sebagai wahana persepsi memainkan peran penting dalam membuka dan memahami fenomena universal. Sementara LuminaSense Envisage bagi Arif Datoem adalah muara observasi, refleksi, serta pengabdiannya dalam fotografi selama 35 tahun.

Contohnya ketika ia memamerkan karya mengenai Banten. Arif membutuhkan hampir tiga tahun hanya untuk melihat konsep tak terkalahkan di dalam Debus Banten. Setelah itu, Arif Datoem menemukan bahwa pemahaman Debus kemudian didefinisikan sebagai cara hidup yang mendorong ketiadaan fisik dan bentuk spiritual sebagai teladan berdasarkan praktik syariah serta tarekat di dalam iman.

Dalam pengertian itu, foto-etnografi ia sisipkan ke dalam proses penciptaan karya seni fotografinya. Fotografi digital dan teknologi cetak digital dibawanya ke ranah seni rupa, yang membuka kemungkinan yang kaya dan luas. Hal itu menantangnya untuk terus mengeksplorasi dan mencipta.

Menurutnya, hidup dengan fotografi adalah perjalanan transendental dalam mengeksplorasi ruang-ruang dalam dari suatu entitas pengetahuan sebagai subjek, secara alami, melalui pendekatan emosional dan pendekatan nalar. Baginya, melihat selalu menjadi cara untuk mengetahui dan fotografi adalah sebuah disiplin untuk melihat.

“Fotografi secara substansial mencurahkan metode dan juga konstitusi pemikiran dan perasaan ke dalam proses melihat, untuk mendapatkan suatu keadaan yang sangat signifikan dari keberadaan subjeknya secara intuitif,” ujar Arif. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU