© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Eksibisi Budaya Antara Banda dan Manhattan

27 Aug 2017

350 tahun lalu di tanggal 31 Juli, Belanda dan Inggris mengadakan perjanjian yang menjadi catatan sejarah dunia. Perjanjian Breda. Ya, karena kesepakatan itulah sebuah kota besar di Amerika Serikat lahir di bawah kolonialisme Inggris. Salah satu isi perjanjian ini adalah pertukaran kepemilikan daerah jajahan antara kedua belah pihak.

Belanda dan Inggris setuju untuk menerima status quo daerah-daerah jajahan di benua Amerika, Afrika, dan Asia. Nieuw Amsterdam (kini Manhattan, New York) yang dimiliki Belanda kala itu, dipertukarkan dengan Suriname dan pulau Run—salah satu kecil di Kepulauan Banda—yang dimiliki Inggris.

Saat itu Pulau Banda menjadi daerah penting bagi Eropa karena menjadi sumber pasokan pala dan fuli, hasil dari pohon pala bagi benua biru tersebut. Sementara Nieuw Amsterdam belum setenar seperti sekarang ini. Tidak ada satupun gedung bertingkat nan megah di sana.

Gambaran itu tersaji dalam pameran bertajuk Banda, Heritage for Indonesia di galeri Erasmus Huis, Jakarta. “Kami ingin menunjukkan betapa pentingnya Banda bagi beberapa negara Eropa. Banda menghasilkan rempah-rempah yang menjadi sumber kehidupan bagi perdagangan negara. Emas pun tak mampu menandingi ini,” jelas Michael, Direktur Erasmus Huis.

Tersohornya kepuluan Banda juga tersaji dari lukisan pulau Neira—salah satu pulau di kepulauan Banda mahakarya Johannes Vingboons, pelukis sohor Belanda di eranya. Jejak sejarah pun bergulir ke sebuah potret dua orang lelaki yang sedang berdiri. Salah seorang dari mereka berpakaian putih dan membawa gait-gait—alat pemetik dan pemanen jala yang terbuat dari bambu panjang. Seseorang lain berdiri di sisinya sembari menggendong bakul pala. Sebuah pengikat memahkotai kepala mereka.

“Mereka adalah pekerja perkebunan pala. Semenjak Pieterszoon Coen berhasil menakhlukkan Banda, ribuan orang dari Indonesia maupun luar Indonesia dijadikan pekerja perkebunan. Hidup mereka yang dulunya tenteram, telah berubah drastis semenjak Belanda berkuasa,” kata Michael.

Masih banyak koleksi lain yang tersaji di ekshibisi ini, seperti kartografi jalur pelayaran Belanda ke Indonesia, peta kepulauan Maluku dan Banda kala itu, informasi cara mengolah pala, dan lain sebagainya. Namun, ada sebuah mahakarya yang cukup menciptakan ironi masa kini antara pulau Run dan Manhattan.

Lukisan bertajuk Nieuw Amsterdam ofte Nue New Iorx opt’ t.Eylant Man karya Johannes Vingboons. Beberapa kapal yang sedang berlayar di lautan luas, dengan daratan yang dihiasi oleh sedikit bangunan, menghiasi lukisan tersebut. Ekshibisi ini dipimpin oleh Yayasan Warisan dan Budaya, Sadiah Boonstra, dan Wim Manuhutu, yang keduanya sekaligus merupakan kurator pameran. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU