© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Arus Balik Cakrawala Perupa Yos

23 Sep 2017

Ada yang menarik di akhir pekan kemarin di Galeri Nasional, Jakarta. Pameran karya perupa Yos Suprapto dipamerkan hingga Oktober mendatang. Yos dikenal sebagai pelukis Indonesia yang akrab dengan karya yang bertautan soal masalah sosial, lingkungan, dan perkembangan baru situasi politik nasional.

Pada kesempatan terbaru ini ia kembali hadir melalui 33 karya lukisan. Dirinya mengangkat evaluasi mendalam perjalanan budaya bangsa terutama budaya maritim lewat pameran tunggalnya yang bertajuk Arus Balik Cakrawala 2017. 

Yos tetap mempertahankan estetika berupa garis, warna, dan gaya meski masalah sosial yang diangkat. Dia menampilkan kebolehannya mengolah figurasi realis yang berakar pada tradisi realisme sosial ala Diego Rivera, dan Taring Padi dengan simbolisme surealistik yang mengingatkan pada sapuan kuas para perupa Yogyakarta era 1980-an.

Setiawan Sabana, Guru besar Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung ekspresi pada karya Yos memiliki keberbagaian kesan dan pesan, yang langsung dan lantang tapi juga terdapat yang lembut dan simbolik. “Ringkas cerita, koleksi karya Yos Suprapto mengandung kegalauan seluruh dimensi berkehidupan di Indonesia,” katanya.

Yos, ujarnya, ingin menghadirkan sebuah narasi visual. Layaknya cerita novel mengalir dalam bentuk sapuan warna yang mengundang imajinasi kita untuk sebuah kisah. Menurut pengamat senirupa Bambang Bujono, melihat lukisan Yos Suprapto dalam pameran kali ini kuat menyarankan adanya cerita. 

“Tampaknya Yos Suprapto adalah seniman yang ingin menyajikan pada kanvasnya cerita yang mengandung masalah yang bisa mengusik ketenteraman kita,” ujarnya.

Yos mengungkapkan, selama setahun melakukan penelitian di Banyuwangi dan Indonesia timur, baik di dataran pegunungan maupun pesisir, hasilnya sebuah mata rantai budaya yang hilang. “Yakni kekuatan budaya bahari inilah yang lenyap ketika kerajaan-kerajaan besar Nusantara mulai memunggungi laut akibat konflik antardaerah dan kedatangan kekuatan kolonial.”

Dalam lukisan 15 kapal dagang VOC digambarkan jelas menandai pendudukan hingga 350 tahun. Namun, menurut Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, lukisan-lukisan Yos selain menyiratkan keprihatinan kondisi sosial, dalam pameran kali ini juga memperlihatkan harapan. "Inilah yang tergambar dalam seri lukisan berjudul “Arus Balik” yang sekaligus juga menjadi tajuk pamerannya." 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU