© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Unjuk Gigi Sastra Amerika Latin di LIFEs 2017

23 Oct 2017

Malam itu festival sastra dan literasi, LIFEs kembali dihadirkan. Acara ini sebenarnya merupakan pengganti dari Bienal Sastra Salihara. Ia menampilkan pertunjukan puisi dari berbagai penyair dan sastrawan dunia. Sebutlah salah satunya, F Aziz melalui kumpulan puisi Playon.

Aziz pernah memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa pada 2016 melalui karya itu. Di acara LIFEs ia membacakan puisi bertajuk Hari-hari Ganjil. Lalu ada pula Zezsyazeoviennazabrizkie yang membacakan penggalan dari novel 'Semua Ikan di Langit'. 

Usai pembacaan, dia menerangkan novel 'Semua Ikan di Langit' terinspirasi dari hal sederhana. “Ketika aku masih kecil, aku melihat ikan terbang dan novel ini hadir karena aku suka shower talk,” ujarnya tertawa di hadapan penonton yang hadir.

Penyair ketiga adalah Pablo Jofre asal Chili. Sastrawan yang kini bermukim di Jerman itu membawakan penggalan puisi-puisinya. “Ini kedua kalinya saya ke Jakarta dan saya bahagia bisa menggelar workshop dengan pecinta sastra yang ada di Jakarta,” ujarnya sebelum membacakan puisi.

Terakhir adalah Yusi Avianto Pareanom yang disebut-sebut sebagai bintang dari acara 'Bintang-bintang di Bawah Langit Jakarta'. Dia membaca nukian dari prosa 'Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi' di ajang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2016. 

Direktur LIFEs Ayu Utami mengatakan dalam sambutannya dalam Bienal Sastra Salihara pembuka dan penutup acara ada tradisi sendiri. “Seperti Bintang-bintang di Bawah Langit Jakarta dan Makan Malam Sastra yang merupakan persoalan jasmani dan rohani. Puisi dan sastra,” kata dia di Teater Salihara.

Tahun ini sastra Amerika Latin yang digandeng oleh tim Komunitas Salihara. Ayu Utama menyebutkan ada 10 alasan dan lima alasan tidak intelektual dari tema yang diusung kali ini. Menurut Ayu antara Indonesia dan Amerika Latin punya kesamaan sejarah kolonialisme dan sama-sama dijajah.

“Dua ini ada masuknya nilai-nilai akulturasi dan sinkretisme. Ada juga terjadi kesadaran kebangsaan, sama-sama berjuang untuk kemerdekaan, sama-sama dikuasai rezim militer, ada teori ketergantungan, dan kita mengenal surealisme dan realisme magis,” tutur Ayu Utami.

LIFEs berlangsung pada 7 hingga 28 Oktober 2017 di Komunitas Salihara dan setiap pekannya berlangsung acara yang berbeda. Festival ini juga didukung oleh kedutaan besar Cile, Brasil, Argentina, Meksiko, Kolombia, Spanyol, Kuba, Venezuela dan Swiss yang berada di Indonesia. 

Please reload

Seek-a-seek #2 Merespon Tantangan di Dunia Desain Grafis

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU