© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Filosofi Budaya di Balik Gendongan Bayi

25 Oct 2017

Apa istimewanya sebuah gendongan bayi? Bagi kebanyakan orang benda ini seperti biasa saja namun sebenarnya, gendongan bayi lebih dari sekedar alat bantuan bagi orangtua yang mengurus anak. Ia adalah budaya yang memiliki nilai filosofis tinggi. Mengakar sejak lama dan menjadi tradisi.

Gendongan bayi ini bukan hanya kental terlihat di Indonesia namun juga di negara-negara lain. Inilah yang ingin disampaikan pada pameran seni bersama bertajuk, Fertil, Barakat, Ayom. Terdapat 27 karya koleksi dari National Museum of Prehistory (NMP) dan 6 koleksi Indonesia masih bisa dilihat hingga 29 Oktober 2017 mendatang. 

Salah satu yang menarik perhatian adalah gendongan bayi dari suku Dayak. Jika kebanyakan gendongan bayi di pulau Jawa terbuat dari kain atau jarik, suku Dayak kerap membuat gendongan yang berasal dari kayu dan bambu untuk menggendong sang buah hati. Apa artinya?

Peneliti Sari Wulandari yang meriset mengenai fungsi, desain, maupun motif gendongan bayi Nusantara itu menceritakan di sela-sela pembukaan pameran di Museum Nasional Indonesia. “Manik-manik itu artinya perlindungan, doa keselamatan. Dulu pakai batu sebagai menitipkan doa,” tutur Sari.

Menurut Sari antara budaya gendongan bayi Taiwan dan Indonesia juga memiliki kemiripan lainnya. “Pemakaian manik-manik di Taiwan dan Dayak juga ada. Dayak punya manik-manik yang sangat istimewa. Dayak pakai gendongan di belakang ketika bayi sudah bisa duduk. Di Sumba, Papua, dan Sulawesi juga menggunakan cara yang sama,” kata Sari lagi.  

Fungsi gendongan bayi sangat berguna sekali. Suku Dayak menggunakannya karena ibu tidak diam di rumah tapi juga bekerja. Di Dayak dulu ladang berpindah, maka mereka bawa anaknya turut serta ke belakang," tambahnya.

Kurator Chang Chi-Shan asal Taiwan juga mengatakan hal yang sama. “Setiap simbol punya banyak makna tapi motif-motifnya mengartikan sesuatu yang mirip dengan Indonesia. Sama-sama berarti kesuburan, berkah, dan perlindungan,” pungkasnya.

Selain pameran, penari Lena Agustina juga sempat menyuguhkan pertunjukan 'Ayun Ambing'. Lena Agustina yang membawakan pertunjukan diiringi oleh alunan musik kecapi dari Dody Satya Ekagustdiman. Pentas selama sekitar 15 menit itu berlangsung di bagian depan pameran.

‘Ayun Ambing' merupakan tembang untuk menidurkan bayi. Biasanya ketika seorang ibu tengah menidurkan anaknya, sambil diayun dengan kain panjang atau jarik Jawa. Lena Agustina yang menekuni tari tradisional di Sanggar Tari Oni Martasuta itu mengatakan pertunjukan yang dilakoninya merupakan flashback perjalanannya sebagai seorang ibu.

“Saya bisa membayangkan diri saya sebagai ibu untuk anak saya dan sebagai anak dari ibu saya. Dalam kandungan ada prosesnya,” ujar Lena Agustina

Dody Satya Ekagustdiman yang saat ini menjadi staf pengajar di Fakultas Seni pertunjukan jurusan Musik Bambu di ISBI Bandung mengatakan pentas ini bermula dari kesenian yang ada di Tanah Sunda. “Di Sunda itu ada pantun. Tri tantu, ikatan antara ibu, bapak, dan anak. Dalam simbolis itu ada dunia atas, tengah, dan bawah. Itulah yang kami pentaskan,” katanya. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU